Home / Teknologi / Zankore by Indosat: …

Zankore by Indosat: AI Factory 1 GW, Panggung Baru Indonesia sebagai Hub AI Regional

Pertengahan pekan ini Indonesia resmi punya tiket untuk bertarung di panggung kecerdasan buatan (AI) global. Pada Kamis, 6 Agustus 2026, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA meluncurkan Zankore by Indosat — platform infrastruktur AI yang menargetkan kapasitas 1 gigawatt (GW), yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Ini bukan sekadar proyek pusat data biasa, melainkan fondasi lengkap yang menggabungkan komputasi, jaringan, dan model bahasa lokal untuk mendorong Indonesia menjadi hub AI regional.

Ringkasan

  • Zankore by Indosat adalah platform AI (AI Factory) hasil kolaborasi Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA, diluncurkan 6 Agustus 2026.
  • Target 1 GW kapasitas komputasi AI — salah satu infrastruktur AI terbesar di Asia Tenggara, dengan tahap awal 200 MW pada paruh pertama 2027 di Batang, Jawa Tengah.
  • Ooredoo Group menjadi investor utama dengan suntikan dana 800 juta dolar AS (sekitar Rp12,7 triliun) dan memegang 49 persen saham.
  • Sahabat-AI, model bahasa besar (LLM) open-source 70 miliar parameter berbahasa Indonesia dan bahasa daerah, akan di-hosting dan dikembangkan di platform ini.
  • Layanan Token-as-a-Service dirancang agar UMKM, instansi, dan pengembang bisa mengakses komputasi AI dengan biaya terjangkau.
  • Peluncuran ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi teknologi bernilai tinggi di kawasan Asia-Pasifik.

Empat raksasa, satu ambisi besar

Zankore by Indosat tidak berdiri sendiri. Ia merupakan hasil pembagian peran yang jelas di antara empat pemain teknologi. Ooredoo Group, grup telekomunikasi asal Qatar yang juga pemegang saham besar Indosat, berperan sebagai investor utama dan penjamin skala regional. NVIDIA memasok komputasi percepatan (accelerated computing), perangkat lunak AI, akses GPU generasi terbaru, serta ekosistem AI globalnya. Nokia bertanggung jawab atas jaringan “AI-native” yang menjadi urat nadi penghubung antar-pusat data, sementara Indosat membawa kepemimpinan pasar, infrastruktur digital, dan kemampuan eksekusi di dalam negeri, sebagaimana dijelaskan dalam siaran resmi Nokia.

Menariknya, Zankore diluncurkan sebagai entitas terpisah dengan CEO sendiri, Ulf Ewaldsson, sosok yang sudah malang melintang di industri telekomunikasi global. Dewan direksinya diisi perwakilan pemegang saham utama, termasuk CEO Indosat Vikram Sinha. Dengan struktur ini, Zankore bisa bergerak lincah seperti perusahaan teknologi murni, bukan sekadar anak usaha operator telekomunikasi, sebagaimana dianalisis TelecomTV.

Bagi Ooredoo, investasi ini bukan proyek iseng. Dalam pengumumannya, mereka memperkirakan investasi awal tersebut akan menyumbang sekitar 600 juta dolar AS kumulatif EBITDA dalam lima tahun pertama. Sementara itu, Light Reading melaporkan bahwa Ooredoo mengucurkan 800 juta dolar AS untuk mendukung peluncuran dan pengembangan awal platform ini, sebuah sinyal bahwa Asia Tenggara dianggap sebagai pasar AI yang sangat menjanjikan.

Mengapa 1 GW begitu signifikan?

Angka 1 GW mungkin terasa abstrak. Untuk membayangkannya, bayangkan sebuah AI Factory — istilah untuk pusat data yang dirancang khusus menghasilkan output AI — harus dibangun dengan investasi raksasa. Berdasarkan perkiraan industri yang dikutip Antara News, membangun AI Factory skala penuh membutuhkan sekitar 50 juta dolar AS untuk setiap 1 MW kapasitas. Dengan kata lain, target 1 GW Zankore setara dengan nilai investasi puluhan miliar dolar AS bila dieksekusi penuh — itulah mengapa kemitraan ini disebut proyek yang “capital-intensive”.

Tahap pertama pembangunan dijadwalkan dimulai pada paruh pertama 2027 di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah, dengan kapasitas awal sekitar 200 MW menggunakan platform NVIDIA GB300 NVL72, sistem superkomputasi rak-ska-la berarsitektur Blackwell Ultra yang didinginkan cairan. Menariknya, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengungkapkan bahwa rencana ini sebenarnya telah digagas dua tahun lalu dan disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum akhirnya diumumkan ke publik.

NVIDIA sendiri membawa arsitektur DSX (Data Center Scale) yang menggabungkan komputasi, jaringan, daya, pendinginan, dan operasional dalam satu sistem terpadu untuk memaksimalkan output AI per megawatt. Yang lebih menarik, Zankore akan memakai DSX MaxLPS, sistem manajemen daya yang secara dinamis mengoptimalkan konsumsi energi di seluruh armada GPU. Menurut klaim NVIDIA, teknologi ini mampu menambah hingga 40 persen kapasitas komputasi dalam anggaran daya yang sama — efektif berarti lebih banyak token yang dihasilkan dengan biaya listrik yang sama.

Sahabat-AI: model bahasa yang lahir dari dalam negeri

Salah satu elemen yang membuat Zankore terasa “Indonesia banget” adalah Sahabat-AI. Model bahasa besar ini berukuran 70 miliar parameter dan didesain open-source, dengan dukungan Bahasa Indonesia plus bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Keberadaan model bahasa lokal seperti ini penting karena sebagian besar model AI global masih dominan dilatih dengan data berbahasa Inggris, sehingga kurang akurat menangkap konteks budaya dan bahasa Nusantara.

Posisi Sahabat-AI dalam ekosistem Zankore bukan pelengkap. Platform ini dirancang menyatukan seluruh tumpukan AI, mulai dari model seperti Sahabat-AI hingga kemampuan jaringan cerdas seperti AI Grid dan AI-RAN. CEO Indosat Vikram Sinha menegaskan filosofi ini saat peluncuran:

“Ketika perusahaan beralih dari sekadar eksperimen AI menuju penerapan yang krusial bagi bisnis, mereka butuh lebih dari sekadar daya komputasi; mereka butuh ekosistem AI yang terintegrasi. Dengan menggabungkan seluruh tumpukan AI, dari model seperti Sahabat-AI hingga kemampuan jaringan cerdas termasuk AI Grid dan AI-RAN, Zankore by Indosat menyediakan fondasi terpercaya untuk mempercepat adopsi AI dalam skala besar.”

Token-as-a-Service: demokratisasi akses komputasi AI

Tidak semua orang butuh membangun superkomputer untuk memanfaatkan AI. Lewat layanan Token-as-a-Service, Zankore menjual daya komputasi dalam satuan token yang bisa dibeli sesuai kebutuhan. Model ini membuka akses bagi:

  • Pelaku UMKM yang ingin memanfaatkan AI tanpa modal besar;
  • Kementerian dan lembaga yang membutuhkan kapasitas komputasi untuk layanan publik;
  • Pengembang aplikasi yang ingin melatih model tanpa memiliki infrastruktur sendiri;
  • Masyarakat umum yang ingin menikmati layanan AI berbahasa Indonesia.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan tren global “neocloud” — penyedia komputasi yang fokus pada kinerja AI dan GPU, berbeda dengan penyedia cloud umum yang menawarkan banyak jenis layanan. Zankore menempatkan diri di tengah tren ini, dan Indonesia bukan satu-satunya yang melakukannya. Menariknya, platform DSX NVIDIA juga diterapkan di Korea Selatan yang tengah berlomba menjadi hub AI regional, sehingga Zankore menjadi semacam “percobaan kembar” di Asia, seperti dicatat TelecomTV.

Arena makin ramai: lomba neocloud di Indonesia

Zankore masuk ke arena yang sedang memanas. Fierce Network melaporkan bahwa raksasa neocloud asal Amerika Serikat, CoreWeave, baru saja mengumumkan rencana membangun tiga fasilitas dengan total 360 MW di Jakarta yang ditargetkan beroperasi pada 2028. Digital Edge Indonesia dan BDx Data Centers juga tengah membangun fasilitas pusat data besar di tanah air. Dengan begitu, Indonesia kini bukan hanya pasar, melainkan medan persaingan infrastruktur AI paling sengit di Asia Tenggara.

Persaingan ini sebenarnya kabar baik bagi pengguna. Lebih banyak pemain berarti pasokan komputasi AI meningkat, harga berpotensi turun, dan pilihan teknologi makin beragam. Namun pertanyaan kedaulatan digital juga mengemuka: ketika kapasitas komputasi Indonesia sebagian besar dimiliki perusahaan asing, seberapa besar kendali nasional atas data dan pengembangan AI dalam negeri? Kehadiran Sahabat-AI dan rencana pemerintah membangun fasilitas manufaktur GPU pertama di Cikarang, Jawa Barat, yang dijadwalkan beroperasi Desember 2026, menjadi upaya menjawab kekhawatiran tersebut — meski tetap butuh pembuktian.

Apa artinya bagi Indonesia?

Menteri Komdigi Meutya Hafid menilai kehadiran AI Factory ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub AI regional yang mampu melayani kebutuhan nasional sekaligus kawasan. Modal Indonesia memang nyata: pasar domestik lebih dari 280 juta penduduk, kapasitas energi yang terus bertambah, dan kebijakan pemerintah yang mendorong transformasi digital serta pengembangan talenta digital.

Namun catatan penting tetap ada. Infrastruktur semegah ini baru bermakna jika dibarengi talenta yang mampu memanfaatkannya, tata kelola data yang jelas, dan ekosistem pengembangan lokal yang sehat. Zankore by Indosat adalah langkah besar — langkah yang menempatkan Indonesia di peta infrastruktur AI Asia-Pasifik. Kini tugas berikutnya adalah memastikan komputasi sebesar itu benar-benar melayani kepentingan nasional, bukan hanya menjadi pemandangan impresif di atas kertas.