Home / Teknologi / Komunitas Open …

Komunitas Open Source Lampung: Dari LampungDev, KPLI Linux, hingga WikiLatih

Lampung memiliki ekosistem komunitas open source yang lebih hidup dari yang banyak orang kira. Dari LampungDev yang membangun platformnya sendiri secara terbuka, jejak panjang Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) sejak 2007, hingga Komunitas Wikimedia Bandar Lampung yang melatih generasi muda menulis pengetahuan bebas. Tiga lapis sejarah ini bersatu dalam semangat yang sama: berbagi ilmu dan membebaskan teknologi.

Ringkasan

  • LampungDev aktif menggelar meetup rutin, terakhir membahas React Native + AI; platformnya dibangun terbuka di GitHub.
  • Jejak KPLI Linux Lampung terekam sejak 2007 — bagian dari gerakan Linux Indonesia sejak akhir 1990-an.
  • Komunitas Wikimedia Bandar Lampung menggelar WikiLatih (6 Februari 2026) memperingati 25 tahun Wikipedia.
  • LampungDev terpilih menjadi salah satu dari 8 komunitas dalam Dicoding DevCommunity Batch 2 (Juli 2025).
  • Wikipedia kini memiliki lebih dari 65 juta artikel dalam 300+ bahasa — dan kontributor Lampung ikut mengisinya.

LampungDev: kopi darat yang jadi platform

LampungDev berawal sebagai komunitas programmer yang kemudian berevolusi menjadi wadah inklusif bagi berbagai profesi teknologi informasi di Lampung — dari bisnis hingga desain. Komunitas yang berbasis di Bandar Lampung ini rutin menggelar meetup di kafe, dan kegiatannya terdokumentasi rapi di laman resmi LampungDev.

Salah satu kegiatan teranyar adalah Casual Meetup #15 (24 Januari 2026) bertajuk “Build Open Source Mobile Apps: React Native + AI Manajemen Event dalam 60 Menit” yang dibawakan Muhammad Fari Madyan, remote React Native developer di Singapura sekaligus co-founder LampungDev. Dalam sesi itu dibahas pemanfaatan AI untuk produktivitas developer, cara bergabung ke ekosistem open source LampungDev, hingga demo live coding dan debugging dengan AI.

Arief Adjie Wicaksono, lead program manager LampungDev, menjelaskan tujuan komunitas ini:

“Komunitas teknologi bukanlah sekadar alat atau sistem. Teknologi hidup karena orang-orang di dalamnya yang memiliki semangat untuk membantu sesama berkembang, baik secara pribadi maupun profesional.”

Komitmen pada open source terlihat nyata: situs LampungDev dibangun sebagai proyek terbuka (open source), dan fitur manajemen acara — registrasi, waiting list, tiket QR-code, hingga email otomatis — dikembangkan secara publik oleh Fari Madyan sendiri. Sejarah meetup komunitas ini tercatat sejak 2024, seperti diberitakan LPM Kronika, dan pada Juli 2025 LampungDev terpilih sebagai salah satu dari delapan komunitas dalam program Dicoding DevCommunity Batch 2.

Sebelum meetup #15, komunitas ini sudah membahas beragam tema yang relevan: “Tech Winter” dan cara bertahan di industri (April 2025), vibe coding di tengah gempuran AI generatif (Agustus 2025), data science untuk industri FnB (September 2025), hingga keamanan siber dari sudut pandang mantan insinyur perusahaan yang sudah melantai di bursa (Oktober 2025). Semua digelar di kafe-kafe Bandar Lampung, gratis, dan terbuka untuk siapa pun — konsisten dengan budaya berbagi yang menjadi ciri khasnya. Pada 28 Maret 2026, komunitas ini bahkan menggelar Halal Bihalal untuk mempererat silaturahmi antaranggotanya.

Jejak panjang KPLI Linux Lampung

Sebelum ada LampungDev, Lampung sudah punya komunitas Linux sendiri. Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) — gerakan nasional yang lahir sejak akhir 1990-an — memiliki cabang di Lampung yang aktif sejak 2007. Anggota komunitas ini terlibat dalam kegiatan fisik seperti installfest dan seminar, bersama KPLI lain di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan kota-kota lain di Indonesia.

Keberadaan KPLI Lampung tercatat dalam catatan komunitas yang mendokumentasikan jaringan KPLI dengan aktivitas tatap muka di berbagai daerah, dan terekam pula pada profil para pegiat yang bergabung sejak 2007 hingga 2008. Sebagai bagian dari gerakan yang juga tumbuh di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, KPLI Lampung membuktikan bahwa komunitas teknologi daerah tidak pernah tertinggal. Inilah fondasi yang membuat budaya berbagi ilmu Linux mengakar di Lampung jauh sebelum istilah “open source” populer.

WikiLatih: dari Lampung ke dunia

Pada 6 Februari 2026, Komunitas Wikimedia Bandar Lampung menggelar pelatihan WikiLatih Wikipedia: From Lampung to the World sebagai bagian dari perayaan internasional 25 tahun Wikipedia, seperti diberitakan Clickinfo. Kegiatan ini membekali generasi muda untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan identitas lokal Lampung ke platform global.

Co-founder Komunitas Wikimedia Bandar Lampung, Agil Mulyani, menekankan tujuan pelatihan ini:

“Kegiatan WikiLatih diselenggarakan untuk memperkuat kapasitas generasi muda dalam memproduksi pengetahuan bebas, khususnya berkaitan dengan bahasa, budaya, dan identitas lokal Lampung agar dapat diakses oleh masyarakat dunia secara terbuka.”

Bagi yang masih ragu soal arti “pengetahuan bebas”, angkanya berbicara sendiri. Wikipedia yang memperingati 25 tahun pada 15 Januari 2026 kini memiliki lebih dari 65 juta artikel dalam lebih dari 300 bahasa, disunting sekitar 250.000 editor sukarelawan, sebagaimana dirilis Wikimedia Foundation. Perayaan ini berlangsung sepanjang tahun 2026 dengan berbagai kampanye, kartu ulang tahun digital, hingga acara komunitas di berbagai kota di dunia.

Pendiri Wikipedia, Jimmy Wales, menyebut perjalanan 25 tahun ini sebagai bukti kekuatan kolaborasi manusia: melawan segala rintangan, Wikipedia tumbuh menjadi tulang punggung pengetahuan di internet, dan ketika orang-orang bersatu dalam semangat membangun kepercayaan dan kerja sama, hal yang tampak mustahil bisa menjadi mungkin. Setiap kontribusi dari Lampung — sekecil apa pun — menjadi bagian dari kumpulan pengetahuan yang diakses miliaran orang itu.

Ekosistem yang saling melengkapi

Ketiga lapis komunitas ini saling melengkapi:

KomunitasFokusKegiatan terbaru
LampungDevDeveloper & teknologi terbukaMeetup React Native + AI; platform open source
KPLI LampungLinux & FOSSJejak aktif sejak 2007-2008
Wikimedia Bandar LampungPengetahuan bebasWikiLatih (6 Februari 2026)

Cerita profil salah satu tokohnya juga mencerminkan seberapa jauh ekosistem ini berkembang. Muhammad Fari Madyan, alumnus Universitas Teknokrat Indonesia, kini bekerja remote untuk perusahaan di Singapura dan Amerika Serikat, mendirikan software house CodeAtHome.id di Bandar Lampung, dan aktif mendorong pembangunan berkelanjutan lewat LampungDev, seperti ditulis Warta Lampung.

Dari installfest Linux di masa lalu, meetup developer di kafe hari ini, hingga menulis artikel Wikipedia untuk memperkenalkan Lampung ke dunia — semuanya adalah satu perjalanan panjang dengan semangat yang sama. Komunitas open source Lampung membuktikan bahwa keterbukaan teknologi bukan monopoli kota besar: siapa pun, dari kota mana pun, bisa ikut membangun dan berbagi. Cerita ini juga menjadi pengingat bahwa komunitas bukan tentang jumlah anggota, tetapi tentang keberlanjutan: generasi KPLI menurunkan semangatnya ke LampungDev, dan kini generasi WikiLatih meneruskan estafet itu ke panggung internasional. Selama ada orang yang mau berbagi, ekosistem akan terus tumbuh — dan dari Lampung, keterbukaan bukan sekadar kata.