Home / Teknologi / Drone Kumbang Unila: …

Drone Kumbang Unila: Pesawat Nirawak AI untuk Menyelamatkan Kopi Lampung

Hama penggerek buah kopi (PBKo) dan penyakit karat daun selama ini menjadi momok bagi petani kopi di Kabupaten Tanggamus, Lampung, dengan potensi memangkas hasil panen hingga separuhnya. Berangkat dari persoalan itu, lima mahasiswa lintas disiplin Universitas Lampung (Unila) menciptakan drone biomimetik berbentuk kumbang berbasis kecerdasan buatan yang mampu memeriksa kesehatan tanaman dalam waktu sekitar 15 menit — dari yang sebelumnya butuh berhari-hari berjalan kaki di perbukitan terjal.

Ringkasan

  • Lima mahasiswa Unila mengembangkan drone biomimetik berbentuk kumbang berbasis AI melalui PKM-KI Unila 2026, didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
  • Deteksi real-time memakai YOLOv8 dan ResNet, kamera ESP32-CAM, dan mikrokontroler Raspberry Pi Pico.
  • Inspeksi kebun yang butuh berhari-hari kini tuntas dalam ±15 menit penerbangan.
  • Biaya produksi relatif terjangkau: Rp6-8 juta per unit.
  • Uji lapangan dilakukan di perkebunan mitra di Kecamatan Ulubelu, Tanggamus; tim menargetkan lolos ke PIMNAS 2026.

Musuh senyap perkebunan kopi

Penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei) dan penyakit karat daun merupakan dua ancaman terbesar perkebunan kopi di dunia. Di Lampung, serangan kedua organisme ini mampu memangkas hasil panen hingga 50 persen. Masalahnya, gejala serangan sering baru terlihat setelah kerusakan meluas, sementara metode pemeriksaan manual mengharuskan petani berjalan berhari-hari menerobos perbukitan terjal untuk memeriksa tanaman satu per satu.

Kehilangan hasil akibat hama dan penyakit tanaman sebenarnya bukan masalah lokal semata. Sebuah studi di jurnal internasional Computers and Electronics in Agriculture mencatat bahwa patogen tanaman dan hama serangga menyebabkan kehilangan hasil panen global diperkirakan mencapai 20-40 persen setiap tahunnya, dengan dampak jauh lebih besar di kawasan berkembang, seperti dirangkum di ScienceDirect.

Penggerek buah kopi sendiri adalah kumbang kecil berukuran sekitar satu setengah milimeter yang menggali lubang pada biji kopi dan berkembang biak di dalamnya, sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas panen. Sementara itu, karat daun menyerang daun dan membuat pohon kehilangan kemampuan berfotosintesis. Keduanya menjadi momok utama perkebunan kopi dunia, termasuk Lampung yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terkemuka di Sumatera.

Dari gagasan menjadi kumbang

Tim yang diketuai Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi — bersama Ariq Hazel, Gita Rahmania, Bayu Dwi Setiawan, dan Elfi Nuraini Maridah, di bawah bimbingan dosen Aryanto — mengusung proposal berjudul “Inovasi Pesawat Nirawak Agen Cerdas Berdesain Kumbang sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas Kopi bagi Petani Rakyat dan Industri Berkelanjutan di Indonesia”. Proposal ini lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) dari Kemendiktisaintek, seperti diberitakan situs resmi Unila.

Bentuk kumbang bukan sekadar gaya. Desain biomimetik itu memungkinkan drone bermanuver di bawah kanopi tanaman kopi yang rapat — area sempit dan rendah yang mustahil dijangkau drone komersial berukuran besar. Ketua tim Rafidto Farras menjelaskan efisiensi yang dihasilkan:

“Jika sebelumnya mereka harus berjalan kaki berhari-hari menerobos perbukitan terjal hanya untuk memeriksa kesehatan tanaman satu per satu secara manual, kini proses inspeksi tersebut tuntas hanya dalam sekitar 15 menit penerbangan drone kumbang kami.”

Teknologi di baliknya

Drone kumbang memadukan beberapa komponen yang umum di pasar, membuatnya relatif murah dan mudah direplikasi:

Komponen / TeknologiFungsi
YOLOv8 + ResNetModel AI untuk mendeteksi gejala hama dan penyakit secara real-time
ESP32-CAMKamera untuk menangkap citra tanaman
Raspberry Pi PicoMikrokontroler pengendali drone
GPS Ublox M8NNavigasi dan penandaan lokasi tanaman terinfeksi
IoTPengiriman titik lokasi ke sistem pemantauan

Saat drone menemukan tanaman terinfeksi, sistem langsung mengirimkan koordinatnya ke dashboard pemantauan sehingga petani tahu persis pohon mana yang harus diobati. Pendekatan ini bukan hanya menghemat waktu, tetapi juga menekan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan. Desain kumbang yang ringkas juga membuat drone ini lebih hemat energi dan lincah menyusuri lorong antar barisan tanaman kopi — kunci bagi perkebunan rakyat yang lahannya miring dan berundak. Semua hasil pemetaan juga bisa diakses lewat antarmuka sederhana, sehingga petani tidak perlu keahlian teknis untuk memakainya.

Uji lapangan di Ulubelu

Pengujian dilakukan di perkebunan kopi mitra di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, bersama petani lokal Sumardi (51). Bagi petani kecil, deteksi dini adalah pembeda antara panen berhasil dan gagal. Sumardi menyambut inovasi mahasiswa Unila dengan haru, sebagaimana dikutip ANTARA Lampung:

“Bagi kami petani kecil, terlambat tahu ada hama berarti gagal panen, dan itu bisa membuat kami gagal bayar utang pupuk atau menyekolahkan anak. Kedatangan anak-anak mahasiswa Unila membawa drone kumbang ini benar-benar seperti mukjizat teknologi di ladang kami.”

“Drone yang sedang kami kembangkan ini mampu bekerja secara real time, presisi, dan menjangkau area perkebunan yang sulit diakses drone konvensional,” tambah Rafidto, seperti dikutip ANTARA Lampung.

Tren serupa sejalan dengan arah pertanian presisi global. Studi di Computers and Electronics in Agriculture menekankan bahwa sistem berbasis drone dan kecerdasan buatan terbukti mendukung pengurangan pestisida secara terkontrol, mempercepat transisi menuju pengelolaan hama berkelanjutan.

Kelima mahasiswa itu datang dari lintas disiplin — memadukan keahlian pemrograman, elektronika, dan pertanian — yang menjadi kunci mengintegrasikan AI, IoT, dan mekanika drone dalam satu produk. Berawal dari riset kecil kampus, gagasan mereka kini menarik perhatian luas: pemilik lahan perkebunan, pelaku industri, hingga kampus lain yang ingin mempelajari pendekatan serupa.

Tim berencana membawa drone kumbang ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2026 dan mengembangkan produk yang siap diterapkan luas. Dengan biaya produksi sekitar Rp6-8 juta per unit — jauh lebih murah dari drone industri — inovasi ini berpotensi diadopsi petani rakyat secara lebih luas. Dana pengembangan berasal dari Kemendiktisaintek melalui skema PKM-KI, membuktikan bahwa pendanaan riset mahasiswa dapat bermuara pada solusi yang langsung menyentuh lapangan. Jika uji lapangan berikutnya berhasil, drone kumbang bukan lagi sekadar proyek kampus, melainkan alat kerja nyata bagi petani kopi Lampung.

Rafidto menegaskan tujuan pengujian lapangan: “Melalui data uji lapangan ini, kami ingin membuktikan perbedaan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan drone, mulai dari percepatan deteksi, pengurangan penggunaan pestisida kimia yang berlebih, hingga peningkatan produktivitas kebun kopi secara nyata.”

Sebagai daerah penghasil kopi terkemuka, Lampung membutuhkan solusi yang menyentuh langsung akar rumput. Drone kumbang Unila adalah contoh nyata bagaimana mahasiswa — dengan modal kreativitas, teknologi terbuka, dan dukungan dana pemerintah — mampu menjawab tantangan terbesar petani di tanah air. Seperti dilaporkan Arah Lampung, langkah ini menjadi salah satu wujud komitmen Unila menghadirkan riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat.