Pusat Data Hyperscale Menggila di Indonesia: CGK Campus Digital Edge 500 MW di Bekasi
Indonesia sedang diserbu pembangunan pusat data (data center) kelas dunia, dan salah satu proyek terbesarnya kini semakin konkret. Digital Edge mencatatkan dua pencapaian penting di kampus data center CGK di Kawasan Industri GIIC, Bekasi: tuntasnya struktur gedung pertama dan kesepakatan baru dengan PLN yang mengamankan pasokan listrik hingga 1,45 GW — komitmen daya terbesar yang pernah diberikan untuk satu kampus pusat data di Indonesia.
Ringkasan
- Investasi US$4,5 miliar untuk membangun CGK Campus berkekuatan 500 MW, bisa diperluas hingga 1 GW.
- Green loan US$665 juta — pembiayaan hijau terbesar untuk proyek data center di Indonesia.
- Pasokan listrik 1,45 GW dari PLN — rekor komitmen daya untuk satu kampus pusat data.
- Gedung pertama (CGK1) ditargetkan beroperasi kuartal IV 2026, diikuti dua gedung lainnya pada 2027.
- Desain ramah lingkungan — target PUE 1,25, sertifikasi LEED, dan netral karbon 2030.
Proyek raksasa di jantung industri Bekasi
CGK Campus adalah kampus pusat data hyperscale siap-AI (AI-ready) yang dibangun Digital Edge di GIIC Industrial Estate, Bekasi — kawasan yang sudah lama menjadi rumah bagi industri manufaktur. Dengan kapasitas awal 500 MW yang bisa diperluas hingga 1 GW, proyek ini menjadi komitmen infrastruktur terbesar perusahaan sejak didirikan, sekaligus salah satu kampus pusat data AI terbesar di Indonesia, seperti diumumkan perusahaan pada Januari 2026.
Angka 500 MW bukan sekadar nominal. Sebagai gambaran, satu data center konvensional biasanya beroperasi di kisaran puluhan megawatt. Kapasitas 500–1.000 MW menempatkan CGK Campus sejajar dengan kampus-kampus hyperscale global yang melayani kebutuhan komputasi AI skala besar.
Pembangunan dilakukan bertahap. Fase pertama terdiri dari tiga gedung yang masing-masing ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026, kuartal I 2027, dan kuartal II 2027, sebagaimana dirinci Datacenter Dynamics. Gedung pertama, CGK1, mencapai puncak struktural (topping out) pada akhir Mei 2026 — menandai selesainya kerangka bangunan.
Pembiayaan hijau terbesar untuk data center
Pada Maret 2026, Digital Edge menutup pembiayaan hijau (green loan) senilai US$665 juta — yang tercatat sebagai pinjaman hijau terbesar untuk proyek pusat data di Indonesia. Dana ini digunakan untuk mendukung pengembangan fase pertama CGK Campus, menurut pengumuman resmi perusahaan.
Pembiayaan ini dipimpin oleh delapan bank, termasuk BNP Paribas, DBS, Mizuho, OCBC, dan Bank Central Asia, dengan SMBC sebagai mandated lead arranger. Kehadiran bank-bank global ini menunjukkan keyakinan investor internasional terhadap prospek ekonomi digital Indonesia.
Rekor daya 1,45 GW dari PLN
Pencapaian paling signifikan datang dari sisi energi. Dalam laporan Kontan, Digital Edge menandatangani perjanjian baru dengan PLN yang meningkatkan pasokan listrik yang telah diamankan menjadi 1,45 GW untuk kampus tersebut.
“Ini merupakan komitmen daya terbesar yang pernah diamankan untuk satu kampus pusat data di Indonesia,” ujar Stephanus Oscar, CEO Digital Edge Indonesia.
Data center adalah salah satu konsumen listrik paling rakus di dunia — per megawatt kapasitas IT bisa membutuhkan daya dua kali lipat untuk sistem pendingin. Karena itu, jaminan pasokan listrik sebesar ini menjadi pertaruhan keberhasilan seluruh proyek. Kampus ini juga akan ditopang jaringan serat optik Indonet, anak perusahaan Digital Edge di Indonesia, termasuk rute serat baru yang dibangun 100 persen di bawah tanah demi keandalan jaringan.
Desain ramah lingkungan
CGK Campus dirancang dengan target efisiensi energi ketat. Kampus ini menargetkan PUE (Power Usage Effectiveness) tahunan 1,25 — angka yang termasuk terbaik di industri — serta sertifikasi LEED, sistem daur ulang air, dan integrasi energi terbarukan. Seluruhnya mendukung ambisi perusahaan mencapai netral karbon pada 2030.
Mengapa data center begitu haus listrik?
PUE mengukur perbandingan antara total energi yang dikonsumsi gedung dengan energi yang benar-benar dipakai untuk komputasi. Angka 1,0 berarti seluruh listrik hanya untuk server — target ideal yang nyaris mustahil. PUE 1,25 berarti setiap 100 watt untuk komputasi butuh tambahan 25 watt untuk pendingin, pencahayaan, dan lainnya. Sebagai pembanding, pusat data lama kerap berada di kisaran 1,5–2,0.
Kebutuhan itu meledak seiring maraknya komputasi AI. Server GPU yang dipakai melatih dan menjalankan model AI jauh lebih panas dan haus daya dibanding server biasa, sehingga satu gedung data center modern bisa menyedot listrik setara puluhan ribu rumah tangga. Di sinilah komitmen 1,45 GW dari PLN menjadi penentu — tanpa jaminan daya, proyek sebesar ini tidak akan berjalan.
Peta pusat data raksasa di sekitar Bekasi
CGK Campus berada di jantung kawasan yang kini menjadi konsentrasi pusat data terpadat di Indonesia. Berbagai pemain global dan nasional membangun fasilitas serupa dalam radius beberapa kilometer, seperti dirangkum Baxtel:
| Proyek | Keterangan |
|---|---|
| CGK Campus (Digital Edge) | 500 MW, ekspansi hingga 1 GW |
| Edgnex Cikarang AI Campus (DAMAC) | Investasi US$2,3 miliar |
| PDG JC3 (Princeton Digital Group) | Groundbreaking November 2025 |
| STT Jakarta 1–4 (STT GDC) | Beroperasi sejak Juni 2023, terus dibangun |
| NeutraDC Cikarang (Telkom) | Hyperscale, beroperasi sejak 2023 |
| PDN 1 Cikarang | Pusat Data Nasional untuk inisiatif Satu Data |
| Cloud region Microsoft & AWS | Wilayah cloud global di Jawa Barat/Jakarta |
Kehadiran begitu banyak proyek dalam satu kawasan menunjukkan efek aglomerasi: investor datang karena infrastruktur daya, jaringan, dan ekosistem pendukung sudah tersedia — dan setiap proyek baru memperkuat daya tarik kawasan yang sama. Proyek-proyek ini turut melengkapi ambisi nasional menjadikan Indonesia hub AI regional, sejalan dengan peluncuran Zankore by Indosat, AI Factory berkekuatan 1 GW di Batang yang ditargetkan beroperasi tahap awal 2027.
Mengapa permintaan terus melonjak
Ledakan ini didorong beberapa faktor sekaligus. Pertama, adopsi AI di kalangan korporasi dan pemerintah membutuhkan kapasitas komputasi lokal yang besar dan latensi rendah. Kedua, regulasi perlindungan data pribadi mendorong perusahaan untuk menyimpan data di dalam negeri (data residency). Ketiga, keterbatasan lahan dan energi di Singapura yang selama ini menjadi hub teknologi kawasan membuat para pemain global melirik Jakarta Raya dan sekitarnya.
Bekasi: ibu kota baru pusat data Indonesia
Proyek Digital Edge bukan satu-satunya. Kawasan sekitar GIIC dan Cikarang kini menjadi konsentrasi pembangunan data center terpadat di Indonesia. Di lingkungan yang sama berdiri pusat data milik Princeton Digital Group (PDG), STT GDC, NeutraDC milik Telkom, hingga kawasan Pusat Data Nasional (PDN) Cikarang. Raksasa cloud seperti Microsoft dan AWS juga telah membuka wilayah (region) mereka di Jawa Barat.
Pemicunya jelas: ledakan kebutuhan komputasi AI dan cloud, ditambah keterbatasan lahan dan energi di Singapura yang selama ini menjadi hub teknologi kawasan. Arus investasi pun mengalir ke Jakarta Raya dan sekitarnya. Bagi Digital Edge sendiri, proyek ini adalah bagian dari portofolio lebih dari 25 pusat data dengan total daya lebih dari 1,1 GW yang tersebar di Jepang, Korea, India, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.
Jika semua berjalan sesuai rencana, CGK Campus akan menjadi salah satu tulang punggung infrastruktur digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan — menyediakan kapasitas komputasi untuk layanan AI, cloud, dan data nasional. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia layak menjadi tujuan investasi data center, melainkan seberapa cepat ekosistem pendukungnya — dari talenta hingga pasokan energi bersih — mampu mengimbangi laju pembangunan. Pembangkit listrik Indonesia yang masih didominasi batu bara menjadi tantangan tersendiri di tengah tekanan global menuju energi terbarukan. Namun bagi Digital Edge dan para investor lainnya, satu hal jelas: momentum sudah dimulai, dan peluangnya terlalu besar untuk dilewatkan.