Home / Teknologi / Danantara dan Arm: …

Danantara dan Arm: Menyiapkan 15.000 Insinyur Desain Chip Indonesia

Indonesia mulai membangun fondasi paling hulu dari industri semikonduktor: manusia. Melalui kerja sama strategis antara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan Arm Limited, perusahaan desain chip asal Inggris, pemerintah menargetkan pelatihan 15.000 insinyur Indonesia dalam teknologi desain chip. Perjanjian kerangka kerja ditandatangani di London pada 23 Februari 2026, disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, dan telah memasuki fase eksekusi dengan dimulainya gelombang pelatihan pertama di Jakarta pada Mei 2026.

Ringkasan

  • Framework agreement Danantara dan Arm ditandatangani di London, 23 Februari 2026, disaksikan Presiden Prabowo dan CEO Arm Rene Haas.
  • Target: 15.000 insinyur dilatih desain chip dalam ekosistem Arm, dicapai bertahap lewat workshop dan pembelajaran online.
  • Arm menguasai sekitar 96 persen desain chip otomotif global dan hampir 94 persen desain chip untuk pusat data dan kecerdasan buatan (AI).
  • Enam bidang IP strategis akan dimiliki Indonesia: otomotif, IoT, pusat data, peralatan rumah tangga, plus dua bidang futuristik seperti kendaraan otonom dan komputasi kuantum.
  • Gelombang pertama diikuti hingga 1.000 peserta di Menara Mandiri, Jakarta, 20–22 Mei 2026.
  • Pemerintah menyiapkan dana awal hingga 150 juta dolar AS untuk ekosistem semikonduktor nasional.

Mengapa Arm? Memahami posisi paling hulu semikonduktor

Industri semikonduktor punya rantai nilai yang panjang, dan desain adalah tahap paling awal sekaligus paling bernilai. Arm adalah pemain dominan di tahap itu. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, Arm menguasai sekitar 96 persen teknologi chip otomotif global dan hampir 94 persen desain chip untuk pusat data dan kecerdasan buatan, sebagaimana dilaporkan The Jakarta Post.

Alih-alih meniru Korea atau Malaysia yang membangun industri semikonduktor dari tahap awal, Indonesia memilih lompatan. Airlangga menyebut kerja sama ini sebagai “leapfrog” bagi ekosistem digital Indonesia: langsung masuk ke fase penguasaan desain chip, bagian industri yang paling hulu, alih-alih memulai dari perakitan atau kemasan.

“Kerja sama ini bertujuan agar Indonesia menguasai teknologi semikonduktor, dan Arm adalah salah satu perusahaan yang menguasai pasar semikonduktor, terutama di bidang desain. Ini adalah bagian paling hulu dari industri semikonduktor,” ujar Airlangga, dikutip ANTARA News.

Enam bidang IP strategis milik Indonesia

Salah satu poin paling krusial dari kerja sama ini adalah kepemilikan kekayaan intelektual (intellectual property/IP). Indonesia tidak sekadar menjadi siswa yang belajar desain chip; negara ini akan memegang IP dari enam desain chip nasional. Airlangga menyebutkan enam bidang tersebut mencakup empat sektor yang sudah jelas dan dua yang futuristik:

  • Teknologi otomotif — termasuk kendaraan listrik yang pasar dan industrinya sedang tumbuh pesat di Indonesia;
  • Internet of Things (IoT) — perangkat terhubung yang menjadi tulang punggung ekosistem pintar;
  • Pusat data (data center) — kebutuhan chip yang meledak seiring pembangunan infrastruktur AI;
  • Peralatan rumah tangga — pasar domestik yang besar dan dekat dengan industri manufaktur lokal;
  • Kendaraan otonom dan komputasi kuantum — dua bidang masa depan yang masih dibahas bersama Danantara.

Pemilihan IP ini masih didiskusikan, tetapi arahnya jelas: Indonesia ingin menjadi pemilik teknologi, bukan sekadar pengguna. Perjanjian juga mencakup pengembangan ekosistem perangkat lunak nasional dengan melibatkan universitas terkemuka seperti ITB, UGM, dan UI, yang telah bersiap mendukung agenda ini selama hampir dua tahun, seperti dicatat ANTARA News.

Skema dan dana pelatihan

Untuk mendukung agenda ini, pemerintah mengalokasikan dana awal hingga 150 juta dolar AS guna membangun ekosistem semikonduktor nasional, sebagaimana dilaporkan Tempo English. Pelatihan dirancang dua arah: insinyur Indonesia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan khusus, dan pelatih Arm dihadirkan langsung ke Indonesia dengan modul khusus. CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyebut skema ini untuk memastikan transfer kemampuan berjalan berkelanjutan, seperti dikutip Indonesia Business Post.

Target 15.000 insinyur tidak dicapai sekaligus. Pelatihan dilakukan secara bertahap dalam bentuk kohort, menggabungkan workshop langsung (in-person) dengan infrastruktur pelatihan global Arm. Setiap peserta menempuh workshop intensif beberapa hari yang dilanjutkan tiga bulan pembelajaran online mandiri.

Gelombang pertama: 1.000 talenta di Menara Mandiri

Eksekusi dimulai lebih cepat dari perkiraan. Pada 20–22 Mei 2026, Danantara bersama Arm, Kemdiktisaintek, dan dukungan Kemenko Perekonomian meluncurkan gelombang pertama pelatihan di Menara Mandiri, Jakarta, dengan hingga 1.000 peserta yang terdiri atas insinyur berpengalaman, lulusan baru, dan mahasiswa, sebagaimana diumumkan dalam siaran resmi Danantara.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Arm yang telah teruji secara global, disampaikan oleh pelatih bersertifikat Arm. Materinya mencakup dasar-dasar desain chip menggunakan teknologi komputasi Arm, akses platform pelatihan on-demand, pemahaman sistem komputasi modern, hingga wawasan karier di industri semikonduktor.

Sigit P. Santosa, CTO Danantara Indonesia, menyampaikan optimisme dan kerangka besar kerja sama ini:

“Jalan Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan terletak pada kemajuan industri dan penguasaan teknologi. Sebagaimana ditegaskan Presiden Prabowo, semikonduktor adalah fondasi industri masa depan kita dan landasan bagi kemakmuran yang akan datang,” ujarnya.

Sementara itu, Airlangga menyebut keberangkatan 1.000 talenta di hari pertama sebagai sinyal masa depan yang cerah. “Mereka yang dilatih Arm akan menjadi pemimpin Indonesia berikutnya di industri semikonduktor,” katanya, dikutip dalam siaran resmi Danantara.

Dari desain ke manufaktur: pintu bagi TSMC, Nvidia, dan SK Hynix

Kemampuan desain chip hanyalah langkah pertama. Dalam kerja sama ini, pemerintah juga membidik tahap berikutnya: pengembangan chip generasi baru dan investasi di sektor manufaktur (fabrikasi), yang saat ini didominasi segelintir perusahaan global. Airlangga bahkan membuka peluang raksasa semikonduktor seperti TSMC asal Taiwan, Nvidia asal Amerika Serikat, dan SK Hynix asal Korea Selatan untuk berinvestasi di Indonesia, sebagaimana dilaporkan Jakarta Globe.

Logikanya sederhana: ekosistem desain yang sehat dengan ribuan insinyur terampil dan kepemilikan IP lokal akan menjadi daya tarik investasi bagi pabrik chip. Indonesia diposisikan masuk ke pasar semikonduktor global yang bernilai lebih dari 600 miliar dolar AS sebagai produsen bernilai tambah tinggi, bukan sekadar konsumen teknologi.

Catatan kritis: dari kertas ke pabrik

Optimisme pemerintah tentu perlu diuji. Menghasilkan 15.000 insinyur terlatih adalah satu hal; menghasilkan chip yang benar-benar diproduksi dan digunakan adalah hal lain. Kepemilikan IP di enam bidang masih perlu diterjemahkan menjadi desain yang bisa diproduksi, dan fabrikasi chip kelas atas membutuhkan teknologi litografi ultra-presisi yang hanya dikuasai segelintir negara.

Yang juga perlu diperhatikan adalah kelangsungan program. Pelatihan semacam ini baru bermakna jika berujung pada industri yang menyerap lulusannya — bukan sekadar sertifikat yang menganggur. Kerja sama Danantara–Arm menawarkan fondasi yang tepat pada waktunya: modal besar, mitra global yang kredibel, dan keterlibatan kampus serta kementerian. Kini, konsistensi eksekusi dalam beberapa tahun ke depan yang akan menentukan apakah Indonesia benar-benar melompat ke peta semikonduktor global, atau berhenti di ambang pintu.