BRIN Fokus Kembangkan Semikonduktor: Jalan Indonesia Bebas dari Ketergantungan Chip Asing
Indonesia menegaskan ambisinya lepas dari ketergantungan chip asing. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyatakan lembaganya akan fokus mengembangkan teknologi maju yang menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan — dan semikonduktor berada di urutan pertama. Pernyataan itu disampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan 150 periset BRIN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026), dalam forum yang menjadi ajang pameran sejumlah inovasi riset nasional.
Ringkasan
- BRIN menetapkan semikonduktor sebagai prioritas utama riset agar Indonesia tidak bergantung pada chip impor.
- Empat bidang teknologi maju yang digarap: semikonduktor, AI, genomics, dan komputasi kuantum.
- Teknologi nuklir dan antariksa juga dikembangkan sebagai pengungkit kedaulatan energi, kesehatan, pangan, dan pengawasan wilayah.
- Tiga strategi besar disiapkan menuju Indonesia Emas 2045, termasuk co-development teknologi global.
- Presiden Prabowo menegaskan penguasaan sains dan teknologi adalah kunci kemajuan bangsa, dengan pendidikan sebagai fondasi.
Empat teknologi maju yang jadi andalan
Dalam sambutannya, Arif Satria memaparkan empat bidang teknologi yang akan menentukan posisi Indonesia di kancah global. Keempatnya dipilih bukan tanpa alasan — semuanya merupakan teknologi yang tengah mengubah peta ekonomi dunia.
“BRIN akan fokus pada teknologi maju yang akan menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Pertama adalah semikonduktor, agar Indonesia tidak bergantung pada chip asing,” ujar Arif, dikutip Kompas.com.
Empat bidang tersebut adalah:
- Semikonduktor — untuk membangun kemandirian industri chip dalam negeri dan mengakhiri ketergantungan pada impor;
- Kecerdasan buatan (AI) — untuk melipatgandakan produktivitas nasional di berbagai sektor;
- Genomics — agar Indonesia mampu menghasilkan benih, obat, dan bioindustri sendiri;
- Teknologi kuantum — untuk keamanan dan komputasi masa depan.
Selain empat bidang itu, BRIN juga mengembangkan teknologi nuklir dan antariksa sebagai pengungkit kedaulatan energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah. Khusus untuk nuklir, Arif menegaskan BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi sejak sekarang agar saat Indonesia memasuki era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), negara tidak memulai dari nol dan tidak sekadar menjadi pembeli teknologi, seperti dilaporkan NtvNews.
Semikonduktor: medan pertempuran ekonomi abad ini
Ketertarikan Indonesia pada semikonduktor bukan tanpa alasan. Chip adalah komoditas paling strategis di era digital — hampir semua perangkat modern, dari ponsel, mobil listrik, hingga pusat data AI, bergantung padanya. Krisis pasokan chip global yang melanda pada 2021-2022 menjadi pelajaran pahit betapa rentannya negara yang tidak memproduksi semikonduktor sendiri.
Dunia kini berada dalam perlombaan besar. Amerika Serikat mengucurkan dana ratusan miliar rupiah melalui kebijakan seperti CHIPS Act untuk memulihkan produksi chip dalam negeri. Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan juga meluncurkan program serupa. Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam berebut menjadi tujuan investasi semikonduktor dengan membangun pabrik, pusat pengemasan, hingga fasilitas riset.
Indonesia selama ini nyaris absen dari peta tersebut. Padahal, pasar domestik Indonesia yang besar — lebih dari 280 juta penduduk dengan adopsi digital yang melesat — adalah daya tarik tersendiri bagi investor chip global. Pernyataan Arif Satria ini, bersamaan dengan rencana pembangunan pabrik manufaktur GPU pertama di Cikarang dan AI Factory 1 GW di Batang, menunjukkan arah yang sama: Indonesia serius masuk ke industri ini.
Tiga jalur menuju Indonesia Emas 2045
Forum di Istana tersebut juga menjadi ajang BRIN memaparkan peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. Arif menyebut tiga jalur utama yang akan ditempuh untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dirinci Antara News:
- Inovasi untuk produktivitas UMKM — menghadirkan teknologi yang langsung meningkatkan daya saing usaha kecil dan menengah;
- Penguatan daya saing industri nasional — termasuk mendukung Danantara dan industri strategis melalui riset dan inovasi;
- Co-development teknologi maju dunia — memfasilitasi kemitraan riset internasional agar Indonesia menjadi bagian dari pengembangan teknologi global, bukan sekadar pasar.
Jalur ketiga ini yang paling menarik sekaligus paling realistis. Membangun industri semikonduktor dari nol membutuhkan waktu puluhan tahun. Namun dengan menjadi mitra riset dan pengembangan (co-development) bagi perusahaan teknologi dunia, Indonesia bisa masuk ke rantai nilai secara lebih cepat sambil membangun kapasitas dalam negeri.
Pesan Prabowo: kunci kemajuan ada di sains
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pandangannya yang tegas: pembangunan bangsa ditentukan oleh kemampuan menguasai sains dan teknologi. Ia bahkan mengutip pernyataan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, tentang kekuatan satu persen orang pintar — sekitar tiga juta orang dari total populasi Indonesia — yang disebutnya cukup untuk mengangkat bangsa.
Forum Istana yang penuh inovasi
Pertemuan 6 Agustus itu bukan sekadar forum formal. Di halaman tengah Istana Kepresidenan, 150 periset BRIN memamerkan berbagai inovasi langsung kepada Presiden, mulai dari teknologi pengolahan air yang mengubah air banjir dan air payau menjadi air siap minum, hingga berbagai produk turunan riset lainnya. Prabowo bahkan sempat mencicipi air hasil olahan dan menguji sejumlah produk inovasi yang dipamerkan, sebagaimana dilaporkan Tribunnews. Pemilihan Istana sebagai lokasi menjadi simbol bahwa riset kini menempati posisi strategis dalam agenda pemerintahan.
Di hadapan para periset tersebut, Prabowo tidak hanya menekankan pentingnya sains dan teknologi, tetapi juga secara spesifik menyinggung kebutuhan akan “orang-orang pintar”. Ia mengutip pernyataan BJ Habibie bahwa satu persen orang pintar saja sudah cukup untuk bangsa — mengingat satu persen dari hampir 300 juta penduduk Indonesia berarti hampir tiga juta orang.
“Jadi bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi, bangsa itu akan maju dengan pesat. Kuncinya adalah sains dan teknologi,” ujar Prabowo dalam pidatonya, seperti dikutip Tribunnews.
Prabowo juga menekankan bahwa pendidikan adalah fondasi paling kritis untuk menguasai sains dan teknologi. Tanpa penyelesaian masalah pendidikan, ambisi sebesar apa pun — termasuk membangun industri semikonduktor — akan tetap menjadi mimpi. Ia mendorong agar seluruh sumber daya manusia Indonesia dicari, dibina, dibesarkan, dan didukung.
Tantangan besar yang menghadang
Optimisme pemerintah tentu tidak menutup kenyataan bahwa jalan menuju kemandirian semikonduktor sangat terjal. Setidaknya ada tiga tantangan utama:
- Kesenjangan teknologi — fabrikasi chip mutakhir membutuhkan teknologi litografi yang hanya dikuasai segelintir negara. Indonesia harus mulai dari langkah realistis, seperti pengemasan, perakitan, dan desain chip.
- Keterbatasan talenta — industri ini menuntut ribuan insinyur dengan keahlian spesifik. Pendidikan vokasi dan riset harus diperkuat bersamaan dengan pembangunan infrastruktur.
- Anggaran riset yang minim — kontribusi riset terhadap ekonomi Indonesia masih rendah dibandingkan negara maju, sehingga komitmen pendanaan jangka panjang menjadi syarat mutlak.
Keseriusan pemerintah harus diuji pada konsistensi: apakah fokus pada semikonduktor, AI, genomics, dan kuantum ini bertahan melampaui periode satu kabinet? Arif Satria menegaskan bahwa penguasaan teknologi inilah yang menentukan apakah Indonesia menjadi pengguna atau pemilik teknologi. Jawabannya akan terlihat dari anggaran riset yang dianggarkan, kebijakan yang konsisten, dan lahirnya generasi ilmuwan yang mampu membawa Indonesia keluar dari status konsumen teknologi global.