Borneo Flasher Tour Pecahkan Rekor 500 Teknisi Ponsel di Lampung Selatan
Kabupaten Lampung Selatan menjadi pusat perhatian komunitas teknologi nasional. Road Show Borneo Flasher Indonesia Tour 2026 edisi Provinsi Lampung yang digelar di GOR Way Handak, Kalianda, pada Sabtu, 14 Juni 2026, sukses menarik sekitar 500 teknisi ponsel dari berbagai kabupaten/kota di Lampung hingga luar daerah. Angka tersebut memecahkan rekor sebagai lokasi dengan peserta terbanyak dalam rangkaian tur tahun ini.
Ringkasan
- ±500 teknisi ponsel hadir di GOR Way Handak, Kalianda — rekor peserta terbanyak Borneo Flasher Indonesia Tour 2026.
- Lampung menjadi kota ketiga dalam tur setelah Palu (26 April) dan Padang (17 Mei).
- Acara berisi workshop teknologi, sesi motivasi bisnis, networking, hingga kegiatan sosial.
- Hadir CEO Borneo Flasher Indonesia Rizal Arsyad Dini, Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, dan perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan RI.
- Borneo Flasher Schematic kini dikenal hingga Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eropa.
Rekor di Kalianda
Sorotan utama acara ini adalah antusiasme yang luar biasa dari komunitas teknisi. Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada daerahnya sebagai lokasi penyelenggaraan. Sementara itu, CEO Borneo Flasher Indonesia, Rizal Arsyad Dini, mengaku kagum dengan sambutan di Lampung:
“Lampung saat ini memegang rekor peserta terbanyak. Alhamdulillah ada sekitar 500 peserta yang terdaftar. Event ini kami buat untuk kembali menyapa teman-teman teknisi di berbagai daerah sekaligus berbagi ilmu dan pengalaman.”
Jumlah itu menjadikan acara ini salah satu ajang pengembangan kompetensi teknisi ponsel terbesar yang pernah digelar di Provinsi Lampung, seperti diberitakan Koran Lampung.
Para peserta datang bukan hanya dari Bandar Lampung dan sekitarnya, tetapi juga dari kota-kota lain di Sumatera — bukti bahwa minat terhadap keterampilan perbaikan ponsel begitu tinggi di kalangan anak muda. Antusiasme mereka menjadi sinyal kuat bahwa teknisi tidak lagi memandang pelatihan sebagai kegiatan sampingan, melainkan investasi untuk naik kelas dari sekadar perbaikan ringan menuju penanganan masalah yang lebih kompleks.
Rute tur 2026
Borneo Flasher Indonesia Tour merupakan roadshow tahunan yang menyambangi kota-kota di seluruh Indonesia untuk memperkuat kompetensi para teknisi ponsel. Rute tur 2026 hingga edisi Lampung:
| Kota | Tanggal | Catatan |
|---|---|---|
| Palu, Sulawesi Tengah | 26 April 2026 | Pembuka tur; tema “Satu Teknisi Sejuta Koneksi” |
| Padang, Sumatera Barat | 17 Mei 2026 | 450+ peserta dari Sumbar, Riau, Jambi, hingga Medan |
| Kalianda, Lampung Selatan | 14 Juni 2026 | Rekor 500 peserta |
Di Palu, workshop digelar di Grand Ballroom Sutan Raja Hotel dengan materi manajemen bisnis dan perbaikan hardware lanjutan yang dibawakan Fuad LTE, juara Borneo Championship CGC World Cup 2025, dengan grand prize paket umroh atau sepeda motor, seperti dilaporkan BeritaPalu.
Adapun di Padang, peserta datang lebih dari 450 orang — dari Sumatera Barat, Riau, Jambi, hingga Medan — dan pendaftaran ditutup lebih awal karena kuota penuh. Acara mendapat dukungan kepala BPP Padang (Kemnaker RI) serta sambutan video dari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, dengan dukungan sponsor seperti OG Super Shinestar, BTACC, Meetoo, HCB, Victory, dan Lorus, sebagaimana dicatat Metro Padang.
Lebih dari sekadar flash
Nama “Borneo Flasher” mungkin terdengar sederhana, tetapi jangkauannya sudah mendunia. Rizal Arsyad Dini menyebut skema dan referensi perbaikan (schematic) buatan Borneo Flasher kini dikenal secara internasional — dari Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Eropa. Kurikulum pelatihannya bertingkat, dari kelas reguler basic untuk pemula, advance eMMC/UFS/RAM/CPU untuk perangkat Android, advance iPhone, hingga advance laptop dan MacBook. Materinya mencakup elektronika dasar, solder, analisis kerusakan, sampai flashing perangkat lunak.
Di edisi Lampung, kegiatan diisi workshop dan pelatihan teknologi, sesi motivasi bisnis, penguatan jejaring komunitas teknisi, pembagian doorprize, serta kegiatan sosial untuk membantu keluarga teknisi yang membutuhkan. Perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan RI, Hasrul Baki Hasibuan, mengapresiasi kolaborasi ini:
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini karena mampu melahirkan inovasi lokal dan meningkatkan rasa percaya diri anak bangsa untuk bersaing di dunia internasional.”
Ekonomi perbaikan dan keberlanjutan
Tur ini sebenarnya menyentuh isu yang jauh lebih besar: ekonomi perbaikan (repair economy). Di tengah era konsumsi yang serba cepat, memperbaiki perangkat yang rusak adalah langkah nyata mengurangi sampah elektronik yang terus menumpuk. Setiap ponsel yang berhasil diperbaiki berarti satu ponsel lagi yang tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. Para teknisi inilah garda terdepan gerakan tersebut — dan workshop seperti yang digelar di Kalianda tidak hanya meng-upgrade keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai bahwa perangkat elektronik bisa berumur panjang di tangan teknisi yang kompeten.
Yang menarik, tur ini juga mengubah cara pandang terhadap profesi teknisi. Dari sekadar “tukang servis”, teknisi kini dilihat sebagai profesional yang perlu terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan berjejaring — sama seperti profesi teknologi lainnya. Kehadiran perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan RI di setiap lokasi tur menjadi sinyal bahwa profesi ini mulai diperhitungkan dalam peta ketenagakerjaan nasional. Di negara berkembang, limbah elektronik kerap luput dari perhatian karena perangkat lama hanya ditumpuk atau dibuang begitu saja; dengan memperpanjang usia perangkat, para teknisi ikut menunda penumpukan limbah itu.
Mendorong ekosistem teknisi
Wakil Bupati M. Syaiful Anwar menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah untuk peningkatan kapasitas masyarakat di bidang teknologi. “Perkembangan teknologi digital berlangsung sangat cepat dan membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif serta kompeten,” ujarnya.
Acara di Kalianda juga diramaikan Ketua Testpoint DPW Lampung, Dwi Wahono, bersama Ketua Panitia Pendi. Tema yang diusung tur — “Satu Teknisi Sejuta Koneksi” — menggambarkan posisi strategis profesi ini: satu orang teknisi mampu menghubungkan ribuan pengguna dengan layanan digital melalui perangkat yang ia perbaiki.
Kehadiran ratusan teknisi di Kalianda menjadi bukti bahwa profesi teknisi ponsel — yang sering dianggap pekerjaan pinggiran — sesungguhnya merupakan tulang punggung industri layanan perangkat di era digital. Dari perbaikan layar, baterai, hingga flashing perangkat lunak, para teknisi inilah yang menjaga perangkat elektronik tetap berfungsi di tengah cepatnya rotasi produk, dan pelatihan semacam ini adalah cara mereka bertahan sekaligus maju.
Dengan memecahkan rekor di Lampung, tur ini diharapkan terus menjadi wadah pengembangan kompetensi teknisi Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem industri servis ponsel yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing. Bagi Lampung Selatan, prestasi ini juga menjadi kabar baik: daerahnya kini masuk peta komunitas teknologi nasional, dan ratusan teknisi yang pulang dengan ilmu baru adalah modal besar bagi masa depan ekonomi digital Lampung.