Home / Teknologi / AI Iwak Pertamina …

AI Iwak Pertamina Bantu Nelayan Cilacap 'Membaca Laut' Sebelum Melaut

Bagi nelayan tradisional, melaut selalu menjadi perjudian dengan alam. Bahan bakar dan tenaga dihabiskan, tapi hasil tangkapan kerap tak sepadan. Kini, sebuah inovasi bernama Iwak berusaha mengubahnya. Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan data satelit besutan startup MetaSeaco ini membantu nelayan Cilacap membaca kondisi laut dari rumah, menentukan kapan berangkat, hingga titik koordinat terbaik untuk mencari ikan.

Ringkasan

  • Iwak adalah teknologi AI + data satelit dari MetaSeaco, startup jebolan program Pertamuda Pertamina.
  • Membantu nelayan menentukan waktu melaut, target jenis ikan, dan titik koordinat potensial — langsung dari rumah.
  • Dipakai 15 perahu nelayan di Cilacap: biaya operasional turun sekitar 23 persen, pendapatan rata-rata naik 68 persen.
  • Perjalanan melaut yang merugi turun dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen.
  • Akurasi prediksi: tenggiri batang 91 persen, bawal putih 85 persen, layur 70 persen.
  • Akan direplikasi ke 269 Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina di seluruh Indonesia.

Melaut Tanpa Tebak-Tebakan

Setiap kali melaut, nelayan tradisional mempertaruhkan segalanya. Bahan bakar untuk kapal, waktu berjam-jam, dan tenaga yang menguras tubuh — semua dikorbankan demi hasil tangkapan yang tidak pernah bisa dipastikan. Di Cilacap Selatan, Jawa Tengah, sekitar 41 persen dari 6.806 perjalanan melaut yang didata MetaSeaco berakhir dengan kerugian.

Angka itu yang mendorong MetaSeaco, startup yang lahir dari program inkubasi Pertamuda Pertamina, mengembangkan Iwak. Teknologi ini menggabungkan kecerdasan buatan dengan data satelit untuk menghadirkan prediksi yang selama ini hanya bisa dilakukan juragan kapal besar: kapan kondisi laut paling aman, ikan jenis apa yang sedang melimpah, dan di titik mana ikan itu berkumpul.

“Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut atau tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan.” — Catur Prasetyo Nugroho, CEO MetaSeaco

Bagaimana Iwak Bekerja

Prinsip kerja Iwak sederhana di permukaan, tetapi kompleks di dalamnya. Teknologi ini menyatukan data satelit — yang merekam suhu permukaan laut, pola arus, sebaran klorofil, hingga pergerakan awan — dengan model AI yang belajar dari ribuan data historis penangkapan ikan di wilayah tertentu. Dari kombinasi itu, lahir informasi yang selama ini hanya dimiliki perusahaan perikanan besar: kapan cuaca benar-benar bersahabat, jenis ikan apa yang sedang berada di musimnya, hingga koordinat perkiraan kumpulan ikan.

Keputusan untuk melaut atau tidak pun bergeser dari “coba-coba” menjadi berbasis data. Nelayan bisa menimbang risiko sebelum mengeluarkan biaya bahan bakar dan tenaga. Waktu, uang, dan usaha yang dulu bisa terbuang sia-sia kini dialihkan ke momen yang paling potensial. Bagi nelayan kecil, inilah perubahan paling mendasar: informasi yang tadinya eksklusif kini bisa diakses dari genggaman tangan. Dengan kata lain, teknologi seperti Iwak menempatkan nelayan tradisional sejajar dengan operator perikanan modern dalam hal akses informasi — perbedaan kapasitas tinggal masalah skala, bukan lagi masalah ketajaman tebakan.

Hasil yang Terukur di Lapangan

Iwak bukan sekadar purwarupa di atas kertas. Teknologi ini sudah dipakai oleh 15 perahu nelayan di perairan Cilacap dan hasilnya terukur jelas. Biaya operasional bisa ditekan sekitar 23 persen karena nelayan tidak lagi berangkat tanpa arah. Pendapatan rata-rata meningkat 68 persen berkat tangkapan yang lebih tepat sasaran. Yang paling penting, perjalanan melaut yang merugi merosot dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen.

Akurasi prediksi Iwak juga mengesankan. Untuk ikan tenggiri batang, akurasi mencapai 91 persen; ikan bawal putih 85 persen; dan ikan layur 70 persen. Dalam salah satu perjalanan, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bahkan berhasil menjaring pendapatan sekitar Rp 3 juta dalam sekali melaut.

IndikatorSebelum IwakSetelah Iwak
Biaya operasionalTurun sekitar 23%
Pendapatan rata-rataNaik 68%
Perjalanan melaut merugi41%±30%
Akurasi prediksi tenggiri batang91%

Pertamina Mendorong Replikasi

Dampak positif di Cilacap mendorong Pertamina memperluas jangkauan teknologi ini. Melalui kolaborasi program Desa Energi Berdikari (DEB) dengan Pertamuda, teknologi MetaSeaco akan dikembangkan dan direplikasi untuk mendukung masyarakat binaan Pertamina di seluruh wilayah operasinya. Rencana ini digaungkan dalam Festival Desa Energi Berdikari 2026 yang digelar di Grha Pertamina, Jakarta, pada 28 Agustus 2026.

Total ada 269 desa energi berdikari binaan Pertamina yang berpotensi menerima teknologi serupa. Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, berharap dampak sosial dari desa-desa tersebut semakin besar seiring bertambahnya teknologi tepat guna yang diterapkan.

“Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar.” — Rudi Ariffianto, VP CSR & SMEPP Management Pertamina

Selain Iwak, Pertamina juga mendorong inovasi lain seperti teknologi Terangin dan pengembangan rantai nilai kelapa. Filosofinya jelas: inovasi tidak seharusnya berhenti pada memenangkan kompetisi, tetapi harus menemukan jalannya ke tengah masyarakat. “Ketika energi, teknologi, dan inovasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat, yang tumbuh bukan hanya produktivitas—tetapi juga kemandirian,” pungkas Rudi.

Kemandirian Ekonomi Pesisir

Lebih dari sekadar angka efisiensi, Iwak membawa perubahan sosial bagi komunitas pesisir. Nelayan yang dulu selalu bergantung pada tebakan atau pengalaman rekan sesama kini punya akses pada informasi yang menjadi kunci di era digital. Pendapatan yang lebih stabil berarti lebih banyak makanan di meja, pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak, dan kepercayaan diri yang tumbuh di tengah keterbatasan.

Desa Energi Berdikari sendiri adalah program Pertamina yang menghadirkan akses energi baru terbarukan sekaligus pemberdayaan masyarakat di desa-desa binaan. Dengan menggodok teknologi seperti Iwak di dalamnya, program ini perlahan bertransformasi — dari sekadar pemasok energi menjadi inkubator inovasi sosial yang menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata warga. Ketika kombinasi itu terus diulang di ratusan desa lain, dampaknya berpeluang meluas jauh melampaui satu kecamatan di Cilacap.

Kasus Cilacap ini menjadi salah satu contoh paling konkret bagaimana AI bekerja untuk masyarakat kecil Indonesia. Cerita lengkapnya bisa kamu simak di detikNews, IDN Times, dan tvOneNews.