Home / Olahraga / Satu Perunggu dari …

Satu Perunggu dari New Delhi: Catatan Kejuaraan Dunia BWF 2026 untuk Bulu Tangkis Indonesia

Panggung tertinggi bulu tangkis dunia tahun ini telah usai digelar. Kejuaraan Dunia BWF 2026 yang berlangsung sejak 17 hingga 23 Agustus di Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India, menutup tirainya dengan satu kabar manis sekaligus pahit untuk Indonesia. Manis karena ganda campuran muda Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah sukses membawa pulang satu-satunya medali—perunggu—sekaligus mencatat debut bersejarah di panggung dunia. Pahit karena angka itu jauh dari standar kejayaan bulu tangis Tanah Air yang biasanya pulang dengan lebih dari sekadar satu logam.

Ringkasan

  • Indonesia mengirim 14 wakil ke Kejuaraan Dunia BWF 2026 di New Delhi, India (17–23 Agustus), delapan di antaranya berstatus unggulan.
  • Satu-satunya medali Indonesia diraih ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah: perunggu setelah tersingkir di semifinal.
  • Di semifinal Sabtu (22/8), Amri/Nita kalah dari pasangan unggulan utama China Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping dengan skor 20-22, 21-14, 20-22 dalam laga tiga gim yang berlangsung sengit.
  • Kekalahan itu memperpanjang catatan buruk head-to-head Amri/Nita menjadi lima kali berturut-turut tumbang dari Feng/Huang.
  • Jonatan Christie, unggulan ketiga sekaligus andalan tunggal putra, tersingkir lebih awal di babak 16 besar.
  • Alwi Farhan dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspita Sari (Ana/Trias) berhenti di perempat final; Ana/Trias dibekuk pasangan Korea Selatan.
  • Ini kali pertama India menjadi tuan rumah kejuaraan dunia bulu tangkis sejak edisi Hyderabad 2009.

Kontingen Besar, Hasil yang Menyisakan Tanda Tanya

Sebelum berangkat, optimisme memang tinggi. Indonesia menurunkan kontingen besar dengan 14 wakil di kelima sektor—tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Delapan di antaranya menyandang status unggulan, termasuk Jonatan Christie sebagai unggulan ketiga dan Putri Kusuma Wardani, peraih perunggu dunia 2025, yang menjadi unggulan keenam di sektor tunggal putri.

Pasukan ini bahkan sempat mengalami pergolakan menjelang keberangkatan. Pasangan ganda campuran Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu mundur, sementara Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil ditarik dan slotnya diberikan kepada Marwan Arif/Aisyah Salma Pratiwi. Sementara itu, ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto datang ke New Delhi dalam kondisi prima setelah menjuarai Japan Open dan China Open secara beruntun—status yang membuat mereka disebut-sebut favorit juara.

Namun lapangan berkata lain. Seiring babak demi babak terlewati, wakil Indonesia tersisa semakin sedikit:

BabakWakil Indonesia tersisa
32 besar14
16 besarBerkurang drastis, termasuk tersingkirnya Jonatan Christie (unggulan 3)
Perempat final5, termasuk Alwi Farhan serta Ana/Trias
Semifinal1 — Amri/Nita
Final0

Malam Terakhir Amri/Nita: Bertarung Sampai Titik Terakhir

Dari seluruh rombongan, hanya Amri/Nita yang sanggup melangkah paling jauh. Ganda campuran yang baru saja dipasangkan ini tampil sebagai kisah Cinderella turnamen. Momen puncak mereka terjadi di perempat final Jumat (21/8), ketika mereka membekuk unggulan ke-11 asal Taiwan, Yang Po-Hsuan/Hu Ling Fang, dengan skor telak 21-18, 21-9—kemenangan yang sekaligus mengunci jaminan medali pertama Indonesia di edisi ini.

Di semifinal Sabtu (22/8) sejak pukul 12.00 WIB, tantangan sesungguhnya hadir: Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, unggulan utama sekaligus pasangan peringkat satu dunia asal China. Dan Amri/Nita tidak datang hanya untuk menyerah.

Gim pertama berjalan ketat. Kedua pasangan saling kejar hingga skor 20-20 deuce, sebelum pengalaman Feng/Huang sedikit lebih tajam—gim pertama direbut China 22-20. Gim kedua menjadi panggung Amri/Nita: servis mereka lebih variatif, pertahanan rapat, dan tempo permainan dikendalikan penuh hingga ditutup 21-14. Segalanya diputuskan di gim penentuan.

“Amri/Nita dipaksa bermain hingga tiga gim, meski sempat unggul lebih dulu pada gim pertama. Skor akhir selesai 20-22, 21-14, 20-22.”

Kompas.com

Sayangnya, gim penentuan kembali milik pasangan China dengan skor 22-20—meski Amri/Nita nyaris membuat kejutan besar setelah menyamakan kedudukan menjadi 20-20 di fase kritis. Duel yang berlangsung selama 97 menit itu memperpanjang catatan head-to-head mereka atas Feng/Huang: nol kemenangan dari lima pertemuan. Namun meski gagap di ambang final, tiket podium perunggu sudah terpasang aman di tangan mereka—medali dunia perdana bagi duo muda berusia awal 20-an ini.

“Semoga hasil ini memotivasi tim ganda campuran yang mulai dari nol lagi. Ayo bareng-bareng teman-teman, para pelatih, adik-adik, kita kerja keras lagi, kita coba lagi semaksimal mungkin.”

— Amri Syahnawi, dikutip ANTARA

Angka-Angka Penting

FaktaDetail
Tuan rumahIndia (New Delhi), pertama sejak Hyderabad 2009
VenueIndira Gandhi Indoor Stadium
Waktu17–23 Agustus 2026
Wakil Indonesia14 (8 unggulan)
Medali Indonesia1 perunggu (Amri/Nita, ganda campuran)
Capaian terbaikSemifinal — Amri/Nita

Di sektor lain, kisahnya kurang menggembirakan. Putri Kusuma Wardani yang tampil sebagai unggulan keenam tidak mampu mengulang podium perunggu edisi 2025, begitu pula Thalita Ramadhani Wibowo yang terhenti lebih awal. Di ganda putra, Fajar/Rian yang datang sebagai favorit usai menjuarai Japan Open dan China Open secara beruntun juga gagal melangkah jauh—bukti bahwa status unggulan di atas kertas tidak pernah menjamin apa pun di lapangan. Debutan Raymond/Joaquin dan pasangan-pasangan campuran seperti Bimo/Arlya serta Rehan/Gloria mendapat bekal pengalaman berharga meski langkahnya singkat.

Apa Artinya Ini bagi Bulu Tangkis Indonesia?

Satu perunggu adalah hasil yang akan memicu evaluasi keras. Beberapa catatan penting muncul dari New Delhi:

  • Generasi transisi sedang berat-beratnya. Dengan pensiunnya beberapa legenda dan cedera pemain senior, beban berpindah ke pemain muda seperti Alwi Farhan, Amri/Nita, dan Ana/Trias. Mereka menunjukkan janji besar—tetapi konsistensi di level elite belum sepenuhnya terbentuk.
  • Amri/Nita adalah temuan berharga. Debut langsung di kejuaraan dunia dan pulang membawa perunggu adalah modal mental yang tak ternilai menuju Asian Games Aichi-Nagoya yang digelar mulai 19 September mendatang.
  • Persaingan Asia Timur makin brutal. China tetap mesin medali, sementara Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia turun dengan skuad dalam-dalam. Indonesia tak bisa lagi mengandalkan dua-tiga nama besar saja.
  • Jadwal padat jadi faktor. Banyak wakil Indonesia datang ke New Delhi usai tur Asia yang melelahkan; manajemen beban latihan dan pemulihan patut dievaluasi.

Melihat ke Depan: Asian Games Menanti

Kalender tidak memberi banyak waktu untuk berduka. Hanya kurang dari empat pekan setelah New Delhi, ajang Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, telah menunggu. Bulu tangkis adalah salah satu penyumbang emas paling konsisten Indonesia di Asian Games, dan pelatih tim nasional kini harus cepat mengubah kekecewaan menjadi bahan bakar.

Bagi Amri/Nita, perunggu dunia ini bisa jadi titik balik karier. Bagi wakil-wakil lain yang pulang lebih awal, New Delhi meninggalkan PR rumah: menajamkan detail teknis, memperkuat fisik, dan menumbuhkan mental juara. Satu hal yang pasti—standar bulu tangkis Indonesia tidak pernah sekadar ikut serta. Standarnya adalah juara. Dan seluruh mata akan tertuju bagaimana jawaban merah putih di Nagoya, September nanti.