Wellness Tourism, Andalan Baru Pariwisata Indonesia yang Nyaris Capai US$2,4 Triliun
Wajah pariwisata global sedang berubah. Para pelancong tidak lagi sekadar berburu panorama indah atau oleh-oleh — mereka datang untuk merawat tubuh, menenangkan pikiran, dan pulang dengan kondisi yang lebih sehat. Tren inilah yang membuat wisata kebugaran alias wellness tourism digadang-gadang menjadi andalan baru pariwisata Indonesia, dengan nilai pasar global yang diproyeksikan menembus US$2,4 triliun pada 2035.
Ringkasan
- Nilai global wellness tourism diperkirakan US$1,08 triliun pada 2026, naik menjadi US$2,4 triliun pada 2035.
- Pasar medical tourism diproyeksikan tumbuh dari US$38,6 miliar (2026) menjadi US$126,2 miliar (2035).
- Jakarta dan Bali ditetapkan sebagai percontohan pengembangan wisata kebugaran 2026–2027.
- Indonesia bermodal jamu, spa rempah, meditasi, dan kekayaan alam yang khas Nusantara.
- BPOM–Kemenpar berkolaborasi lewat skema SAS, pendampingan desa wisata, dan KEK Kesehatan.
Tren Global yang Menggiurkan
Kesadaran akan kesehatan fisik dan mental pasca-pandemi telah mengubah perilaku wisatawan dunia. Alih-alih liburan yang hanya menguras energi, mereka mencari pengalaman yang membuat tubuh lebih bugar dan pikiran lebih tenang. Inilah yang menjadi motor pertumbuhan wellness tourism.
Angkanya cukup mencengangkan. Berdasarkan proyeksi yang dihimpun dari berbagai sumber, nilai ekonomi wellness tourism global diperkirakan menembus US$1,08 triliun pada 2026 dan berpotensi melonjak menjadi US$2,4 triliun pada 2035. Segmen ini bahkan tercatat tumbuh lebih cepat dibanding industri pariwisata konvensional.
Sektor wisata medis (medical tourism) juga tak kalah menjanjikan, dengan pasar yang diproyeksikan naik dari US$38,6 miliar menjadi US$126,2 miliar dalam periode yang sama. Masyarakat dunia kian rela terbang antarnegara untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas dengan harga yang lebih bersahabat.
Pertumbuhan itu ikut menggeser paradigma destinasi: sebuah tempat kini dihargai tidak lagi semata karena pemandangannya, tetapi karena kemampuannya memulihkan manusia — tubuh yang lelah, pikiran yang bising, dan kebiasaan hidup yang buruk.
“Wisatawan kini tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang memberikan manfaat bagi kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup.” — Taruna Ikrar, Kepala BPOM
Modal Besar Nusantara
Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan bahan baku untuk menjadi pemain utama. Warisan budaya seperti jamu, tradisi spa berbahan rempah khas tiap daerah, meditasi, aromaterapi, hingga pemanfaatan sumber daya alam geothermal adalah paket pengalaman yang sulit ditiru destinasi lain.
- Bali — lama dikenal sebagai surga retret kebugaran kelas dunia dengan layanan spa, yoga, dan tradisi kesehatan lokal.
- Jakarta — pintu gerbang wisatawan internasional sekaligus pusat layanan kesehatan modern, cocok untuk wellness tourism urban.
- Yogyakarta & Solo — menawarkan pengalaman perawatan tradisional khas keraton.
- Desa wisata — sekitar 6.261 desa wisata berpotensi menjadi pusat produksi jamu, herbal, dan pangan lokal bernilai ekonomi tinggi.
Dengan kombinasi tersebut, Indonesia tidak perlu meniru persis model negara lain. Kekhasan wellness Nusantara bukan sekadar pemandian air panas atau pijat relaksasi, melainkan filosofi keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa yang mengakar pada budaya — dari jamu keraton hingga ritual spa rempah Bali. Itulah diferensiasi yang tidak bisa disalin kompetitor.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri menegaskan keyakinannya. “Kita memiliki modal kuat untuk memimpin pasar ini. Indonesia dapat memadukan keunggulan jamu tradisional warisan leluhur dengan fasilitas medis modern yang didukung keindahan alam nusantara,” ujarnya.
Jakarta–Bali Jadi Percontohan
Untuk memastikan ekosistemnya terbangun dengan baik, Kementerian Pariwisata menetapkan Jakarta dan Bali sebagai pusat percontohan pengembangan wisata kebugaran pada 2026–2027. Alasannya, keduanya memiliki tingkat kesiapan industri paling tinggi dengan karakteristik yang saling melengkapi.
Bali unggul di sisi pengalaman dan tradisi, sementara Jakarta berperan sebagai gerbang utama sekaligus pusat kesehatan modern. Model ini nantinya direplikasi ke destinasi lain di Indonesia, misalnya lewat kolaborasi dengan Jogjakarta Cultural Wellness Festival serta event Wellness Tourism ASEAN–Japan Center di Bali.
Tak berhenti di situ, Kementerian Pariwisata juga mensinergikan wellness dengan olahraga dan event. Negara-negara dengan pengeluaran wisatawan tertinggi — seperti Swiss, Austria, Belgia, dan AS — ternyata sekaligus peminat besar sport tourism. Kombinasi ini dinilai strategis untuk menaikkan nilai belanja wisatawan, bukan sekadar jumlah kunjungan.
Wonderful Indonesia Wellness: Wadah Ekosistem
Untuk menyatukan berbagai inisiatif, pemerintah menghadirkan Wonderful Indonesia Wellness (WIW) sebagai kegiatan payung. Tahun lalu, program ini berjalan sebulan penuh dari 1 hingga 30 November dan mempertemukan dua festival besar: Royal Surakarta Wellness Festival yang digelar Keraton Surakarta dan Jogja Cultural Wellness Festival oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah Yogyakarta.
Royal Surakarta menampilkan kekayaan tradisi dan seni Jawa dalam kemasan modern, sementara Jogja Cultural Wellness Festival menghadirkan puluhan sesi seputar makanan sehat, gaya hidup ramah lingkungan, praktik spiritual, hingga perawatan alami. Keduanya menjadi contoh bagaimana kegiatan payung itu menyatukan berbagai inisiatif wellness dari daerah.
Pada 2026, pemerintah kembali berkolaborasi dengan JCWF dan mendukung hajatan strategis lain, termasuk event Wellness Tourism ASEAN–Japan Center di Bali. Bagi wisatawan domestik, ini sekaligus menjadi momen tepat: berlibur sambil ikut merawat tubuh, mengenal jamu dari sumbernya, dan belajar gaya hidup sehat dari komunitas lokal — pengalaman yang sulit dicari di negara lain.
Peran BPOM dan Jalan Panjang Menuju Standar Global
Kolaborasi instansi menjadi kata kunci. BPOM bergandengan tangan dengan Kemenpar mengawal kualitas produk — dari jamu, kosmetik lokal, hingga obat-obatan yang digunakan wisatawan. Salah satu terobosan yang dihadirkan adalah Special Access Scheme (SAS), skema jalur cepat agar obat-obatan tertentu yang dibutuhkan rumah sakit internasional bisa masuk dengan tetap diawasi ketat. Sejak Juni 2025, sudah ada 19 persetujuan SAS, termasuk untuk obat antikanker dan imunoglobulin yang dipakai di Bali.
BPOM juga mendampingi sejumlah desa wisata, seperti Desa Wisata Jamu Kiringan di Bantul, Wonolopo di Semarang, hingga kawasan wisata herbal berbasis masyarakat di Sumba Timur. Sementara itu, dukungan terhadap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan, seperti Bali International Hospital di KEK Sanur, memperkuat posisi wisata medis nasional.
Tantangannya tetap nyata. Standardisasi layanan, sertifikasi terapis, ketersediaan SDM terlatih, dan promosi global yang kalah agresif dari Thailand menjadi pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Sektor ini juga menuntut batasan yang jelas antara sekadar relaksasi (wellness), layanan kesehatan (health tourism), dan tindakan medis (medical tourism) agar tidak terjadi kekeliruan yang berujung pada risiko keselamatan.
Indonesia tengah berada di persimpangan yang tepat. Dengan modal alam, budaya, dan momentum tren global, wellness tourism bukan sekadar peluang — melainkan keniscayaan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah sektor ini akan tumbuh, melainkan seberapa cepat Indonesia menangkapnya sebelum diambil destinasi lain. Update selengkapnya bisa kamu baca di ANTARA, detikHealth, dan RRI.