Latihan Angkatan Laut Indonesia–China di Timur Taiwan: Diplomasi Rutin atau Pemicu Ketegangan?
Pada pertengahan Agustus 2026, perhatian kawasan Asia Timur tersita oleh sebuah latihan angkatan laut yang tidak biasa: fregat TNI AL KRI I Gusti Ngurah Rai-332 menggelar passing exercise (PASSEX) dengan kapal perang Angkatan Laut China di perairan timur Taiwan. China menyebutnya latihan komunikasi dan pengisian bahan bakar di laut yang rutin, sementara Taiwan mengecamnya sebagai “provokasi militer”. Indonesia sendiri menegaskan kegiatan ini bagian dari diplomasi maritim bebas-aktif. Berikut analisis lengkapnya.
Ringkasan
- China mengumumkan latihan navigasi bersama dengan Indonesia di perairan timur Taiwan pada pertengahan Agustus 2026 — untuk pertama kalinya China menggelar latihan dengan angkatan laut asing di wilayah itu.
- Peserta latihan adalah fregat berpeluru kendali Honghe (523) dan KRI I Gusti Ngurah Rai-332, yang sedang dalam perjalanan pulang dari latihan bersama Angkatan Laut Rusia di Vladivostok.
- TNI AL menyatakan kegiatan ini adalah PASSEX rutin, bukan latihan perang, dan bagian dari kebijakan luar negeri bebas-aktif.
- Taiwan menyebut latihan ini “provokasi militer” yang menciptakan kesan palsu bahwa China memiliki yurisdiksi atas perairan timur Taiwan.
- Latihan terjadi di tengah peningkatan aktivitas patroli penjaga pantai China di wilayah yang sama sejak Juni 2026.
Kronologi: dari Vladivostok ke timur Taiwan
Kementerian Pertahanan China pada Selasa, 11 Agustus 2026 sore, mengumumkan bahwa fregat berpeluru kendali Honghe (hull 523) akan melakukan “latihan navigasi” dengan fregat Indonesia KRI I Gusti Ngurah Rai-332 di perairan timur Taiwan pada pertengahan bulan itu. Fokus latihan disebutkan mencakup latihan komunikasi dan pengisian bahan bakar di laut, dengan tujuan meningkatkan kapabilitas operasi gabungan kedua angkatan laut dan “bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional”, seperti diberitakan Reuters.
Yang membuat pengumuman itu mengejutkan adalah lokasi dan momennya. Sebelumnya, KRI I Gusti Ngurah Rai-332 tengah dalam perjalanan pulang ke Indonesia setelah mengikuti latihan bersama Angkatan Laut Rusia di Vladivostok. Dalam perjalanannya, kapal itu juga sempat menggelar latihan dengan Angkatan Laut Jepang di dekat Tokyo pada 8 Agustus. Menurut keterangan pejabat intelijen Taiwan, Wu Tien-jen, kapal Indonesia itu berada sekitar 70–80 mil laut di lepas pantai timur Taiwan saat latihan dilangsungkan, dan posisinya memang sejalan dengan rute kepulangan dari Jepang.
Penjelasan TNI AL: PASSEX itu tradisi maritim
Menanggapi sorotan internasional, Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Tunggul menjelaskan bahwa PASSEX adalah protokol standar ketika kapal perang melintas dekat perairan negara lain. Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan latihan perang.
“Passing exercises are common goodwill engagements conducted by navies worldwide as a manifestation of naval camaraderie and maritime diplomacy inherent in warship operations,” kata Tunggul, dikutip Antara News.
Dengan kata lain, selama pelayaran pulang, KRI I Gusti Ngurah Rai akan menggelar PASSEX dengan negara-negara yang dilewatinya — termasuk Rusia, Jepang, dan China. Latihan itu, lanjut Tunggul, mencerminkan politik luar negeri bebas-aktif Indonesia. Posisi ini sejalan dengan analis yang menilai bahwa kapal Indonesia memang sedang pulang dan bukan secara khusus dikirim untuk berlatih bersama China.
Reaksi keras Taiwan
Reaksi terkeras datang dari Taiwan. Dewan Urusan Daratan (Mainland Affairs Council/MAC), badan yang menangani hubungan dengan China, “sangat mengutuk” rencana latihan tersebut dan menyebutnya sebagai “provokasi militer” yang melanggar kedaulatan Taiwan serta mengancam keamanan regional, seperti dilaporkan Focus Taiwan.
MAC bahkan menuduh China melakukan “latihan sebagai nama, perluasan sebagai kenyataan” (exercises in name, expansion in reality). Menurut MAC, langkah ini dimaksudkan untuk menciptakan “kesan palsu” di mata komunitas internasional bahwa Beijing memiliki yurisdiksi atas perairan timur Taiwan. Kementerian Luar Negeri Taiwan juga menyatakan telah meminta klarifikasi dari semua pihak terkait, termasuk meminta Indonesia memberikan penjelasan lebih lanjut.
Klaim China atas perairan timur Taiwan
Dari sisi China, latihan ini bukan sekadar kegiatan teknis. Media pemerintah Global Times melaporkan bahwa ini adalah pertama kalinya China menggelar latihan dengan angkatan laut asing di perairan timur Taiwan. Ahli militer Zhang Junshe menilai langkah itu sengaja untuk menegaskan posisi China di wilayah tersebut.
“China memiliki hak berdaulat dan yurisdiksi atas zona ekonomi eksklusif di timur Pulau Taiwan. Mengundang kapal perang asing untuk berlatih di perairan yang berada dalam yurisdiksi China adalah hal yang normal dan wajar,” kata Zhang Junshe, dikutip Global Times.
Latihan dinyatakan selesai pada Rabu pagi, 12 Agustus 2026. Komando Teater Timur (PLA Eastern Theater Command) merilis bahwa kedua fregat melakukan komunikasi maritim, manuver formasi, pengisian bahan bakar di laut, hingga upacara perpisahan. Semua sasaran latihan disebutkan tercapai.
Mengapa perairan timur Taiwan begitu sensitif?
Perairan timur Taiwan bukan lokasi netral biasa. Kawasan ini terhubung langsung ke Laut Filipina dan menjadi jalur utama kapal perang China menuju Pasifik Barat. Sepanjang 2026, aktivitas China di wilayah itu meningkat tajam. Sejak Juni, penjaga pantai China menjalankan “operasi penegakan hukum maritim khusus” di timur Taiwan sebagai respons atas pembicaraan delimitasi batas maritim Jepang–Filipina. Washington bahkan menyebut patroli tersebut “sangat mengganggu stabilitas” (deeply destabilizing).
Yang menarik, pengumuman latihan ini datang berbarengan dengan kunjungan Elbridge Colby, Under Secretary of War for Policy Amerika Serikat, ke Jakarta untuk bertemu Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam kerangka Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Waktu yang hampir bersamaan ini membuat sebagian analis membaca latihan Indonesia–China sebagai sinyal bahwa Jakarta tetap ingin menjaga keseimbangan di tengah rivalitas AS–China.
Menurut analisis Domino Theory, Indonesia memang berada dalam posisi menjepit. Di satu sisi, Jakarta berencana membeli jet tempur J-10 buatan China, tetapi di sisi lain sedang berdiskusi untuk mengakuisisi kapal perusak kelas Asagiri dari Jepang. Indonesia juga tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan dan menganut kebijakan satu-China, meski lebih dari 300.000 pekerja migran Indonesia bekerja di pulau itu.
Menimbang dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, latihan ini bisa dibaca sebagai langkah pragmatis: menjalin kerja sama maritim dengan berbagai kekuatan tanpa memihak. PASSEX adalah praktik umum yang juga dilakukan Indonesia dengan Jepang, Australia, hingga Singapura dalam berbagai kesempatan. Namun, memilih perairan timur Taiwan — wilayah yang diklaim China dan Taiwan secara bersamaan — membuat latihan rutin itu otomatis bermuatan politik.
Para pengamat memperingatkan bahwa meski latihan ini mungkin tidak berdampak langsung secara militer terhadap Taiwan, signifikansi geopolitiknya besar. Ia menjadi ujian bagaimana Indonesia menjaga citra negara yang bebas-aktif namun tetap dihormati semua pihak di kawasan yang sedang memanas. Bagi Taiwan, yang sejak Juni menghadapi gelombang patroli kapal pemerintah China di pantai timurnya, keterlibatan kapal asing dalam latihan di perairan itu menjadi preseden yang dikhawatirkan. Sementara itu, Jepang dan Filipina — yang mengklaim bagian utara dan selatan perairan tersebut — juga akan mencermati sikap Jakarta ke depan.
| Kapal | Angkatan Laut | Peran dalam Latihan |
|---|---|---|
| Honghe (523) | China (PLA Navy) | Fregat berpeluru kendali, inisiator latihan |
| KRI I Gusti Ngurah Rai-332 | Indonesia (TNI AL) | Fregat, dalam perjalanan pulang dari Vladivostok |
Kesimpulan
Latihan Indonesia–China di timur Taiwan pada Agustus 2026 menyoroti kompleksitas diplomasi maritim Indonesia di tengah persaingan besar kawasan. Bagi Jakarta, ini hanyalah PASSEX rutin dalam semangat bebas-aktif. Bagi Beijing, ini penegasan yurisdiksi. Bagi Taiwan dan sekutunya, ini adalah provokasi berbahaya yang mencoba mengubah status quo. Yang jelas, satu langkah kecil TNI AL kini ikut diperhitungkan dalam papan catur geopolitik Pasifik yang semakin ramai.