Home / Politik / Karhutla Agustus …

Karhutla Agustus 2026: Kebakaran Hutan 107.000 Hektare dan Ancaman Kabut Asap Regional

Indonesia kembali menghadapi musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang parah. Hingga pertengahan Agustus 2026, lebih dari 107.000 hektare lahan terbakar di berbagai provinsi, sekitar 50.000 petugas dikerahkan, dan Gunung Bromo — salah satu destinasi wisata paling populer — ditutup total karena api. Di tengah penguatan El Nino yang dijuluki “Godzilla”, kabut asap mulai menerpa Malaysia dan mengancam Singapura. Berikut rangkuman lengkapnya.

Ringkasan

  • Lebih dari 107.000 hektare lahan dan hutan terbakar sejak Januari 2026 — lebih dari dua kali lipat area yang terbakar sepanjang 2023.
  • Sekitar 50.000 petugas pemadam dan puluhan helikopter dikerahkan, dengan fokus utama di enam provinsi rawan karhutla di Sumatra dan Kalimantan.
  • Gunung Bromo Tengger Semeru ditutup untuk wisatawan setelah api menghanguskan hampir 900 hektare kawasan taman nasional.
  • BMKG memperingatkan musim kemarau 2026 lebih kering dan panjang akibat El Nino, dengan Agustus–September sebagai bulan paling kritis.
  • Kabut asap mulai menyebar ke Sarawak, Malaysia (indeks kualitas udara mencapai level “tidak sehat”), sementara Singapura bersiap menghadapi risiko serupa.

Karhutla dalam angka

Data Kementerian Kehutanan yang dikutip media internasional menunjukkan luas lahan yang terbakar sepanjang Januari–Juni 2026 sudah mencapai lebih dari 107.000 hektare — angka yang hampir dua kali lipat total area yang terbakar sepanjang 2023. Angka tersebut terus bertambah seiring puncak musim kemarau.

Untuk memadamkan api, pemerintah mengerahkan sekitar 50.000 personel pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana, didukung 43 helikopter serta 10–15 pesawat sayap tetap untuk water bombing, dan membentuk gugus tugas multi-lembaga untuk mengoordinasikan operasi lintas kementerian.

WilayahStatusKondisi
Riau, Jambi, Sumatra SelatanDaruratLahan gambut terbakar, termasuk desa Sungai Gelam di Muaro Jambi
Kalimantan Barat, Tengah, SelatanDaruratAsap menyebar ke Sarawak, Malaysia
Gunung Bromo (Jawa Timur)Akses ditutupHampir 900 ha kawasan taman nasional terbakar

Fokus pemadaman diarahkan pada enam provinsi yang memiliki hamparan gambut luas — Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan di Pulau Sumatra, serta Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan di Pulau Kalimantan. Lahan gambut menjadi perhatian khusus karena dapat terbakar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan meski sudah tampak padam dari atas.

El Nino “Godzilla” memperparah situasi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 akan lebih intens dan berkepanjangan daripada biasanya, sebagian akibat penguatan El Nino. Sejumlah media bahkan menjuluki fenomena tahun ini sebagai El Nino “Godzilla” karena suhu permukaan laut di Pasifik tropis meningkat cepat, seperti dilaporkan BBC.

Kondisi panas dan kering membuat vegetasi, gambut, dan perkebunan menjadi sangat mudah terbakar. BMKG memperingatkan bahwa Agustus dan September merupakan bulan paling kritis, karena vegetasi kering dan angin kencang menciptakan kondisi ideal bagi api untuk menyebar cepat. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago memperingatkan bahwa kondisi El Nino yang kuat diperkirakan bertahan hingga sekitar September atau awal Oktober.

Gunung Bromo: destinasi wisata yang ditutup

Salah satu titik api terbesar berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Jawa Timur. Kebakaran yang mulai terjadi pada 3 Agustus 2026 itu menghanguskan hampir 900 hektare sabana dan hutan, termasuk bunga edelweis yang dilindungi serta kawasan Penanjakan, titik pandang favorit wisatawan. Taman nasional telah menutup seluruh akses wisata sejak 8 Agustus hingga waktu yang belum ditentukan, seperti dicatat Mongabay.

Api di Bromo dinyatakan “sebagian besar terkendali” oleh pihak berwenang pada Selasa, 11 Agustus. Menurut Rudijanta Tjahja Nugraha, kepala TNBTS, hampir 900 hektare lahan di kawasan itu terbakar dalam 36 titik panas, sementara Kepala BNPB Suharyanto menyebut titik panas aktif tersisa di dua lokasi: Puncak 30 dan Dengklek, seperti diberitakan The Star. Kebakaran di Bromo diduga disebabkan oleh aktivitas manusia, meski penyebab pasti masih diselidiki.

Dampaknya tidak hanya pada sektor pariwisata. Daryono Perwira Sakti, edukator kebencanaan yang sebelumnya membidangi direktorat gempabumi dan tsunami BMKG, memperingatkan bahwa panas ekstrem dari kebakaran dapat membentuk lapisan tanah kedap air. Lapisan ini menghentikan penyerapan air ke dalam tanah sehingga meningkatkan risiko erosi parit dan tanah longsor saat musim hujan tiba. Asap tebal juga mengganggu pemantauan visual terhadap tiga gunung berapi aktif di kawasan itu — Bromo, Tengger, dan Semeru.

Upaya pemadaman: cloud seeding gagal, air bombing andalan

Teknik modifikasi cuaca atau cloud seeding yang biasanya diandalkan untuk memicu hujan justru terkendala tahun ini. Djamari Chaniago mengungkapkan bahwa pemantauan ilmiah tidak menemukan awan hujan yang cocok untuk operasi modifikasi cuaca setidaknya hingga 18 Agustus. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang meninjau Gunung Bromo menyatakan:

“Kami hanya mengandalkan water bombing dan tim pemadam darat,” kata Raja Juli Antoni, dikutip Al Jazeera.

Tanpa hujan bantuan, pemadaman mengandalkan puluhan helikopter water bombing dan drone penyemprot air. Di Jambi, hampir 6.000 petugas dikerahkan untuk memadamkan kebakaran lahan gambut yang melanda hampir 50 hektare di provinsi itu. Api terbesar berada di Desa Sungai Gelam, Muaro Jambi, tempat puluhan hektare perkebunan kelapa sawit milik warga hangus, dan sekitar 300 personel dikerahkan untuk titik tersebut. Kedalaman gambut, terbatasnya pasokan air, dan angin kencang membuat upaya pemadaman berjalan lambat.

Kabut asap lintas batas: Malaysia dan Singapura siaga

Sesuai pola tahunan, kabut asap mulai menyebar lintas negara. Satelit menunjukkan gumpalan asap kebakaran terbawa angin dari Kalimantan Barat menuju Sarawak, Malaysia. Kota Serian di Sarawak mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) tertinggi di wilayah itu dengan angka 195 — masuk kategori “tidak sehat” — dan setidaknya sembilan hingga sebelas wilayah di Sarawak melaporkan kualitas udara tidak sehat. Bahkan, pelajar di beberapa sekolah terpaksa belajar dari rumah.

Pemerintah Indonesia menegaskan belum ada keluhan resmi dari negara tetangga. “Sejauh ini tidak ada yang terganggu oleh asap,” kata Djamari Chaniago dalam konferensi pers Senin, 10 Agustus. Namun ia mengakui pemerintah berupaya keras agar asap tidak mengganggu negara tetangga. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN bahkan telah menaikkan kewaspadaan kabut asap regional pada 3 Agustus.

Sementara itu, Singapura mulai bersiap. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Grace Fu menyatakan cuaca kering pekan depan dapat meningkatkan risiko kabut asap jika kebakaran di Kalimantan dan Sumatra selatan memburuk. Satuan tugas kabut asap Singapura siap diaktifkan berdasarkan ambang batas Indeks Standar Polusi (PSI), seperti diberitakan The Straits Times.

Mengapa karhutla terus berulang?

Karhutla adalah masalah tahunan yang akrab bagi kawasan Asia Tenggara. Kebakaran sering kali dipicu oleh pembakaran lahan ilegal oleh pemilik perkebunan atau petani untuk membuka lahan dengan murah dan cepat. Pada 2023, kebakaran di Gunung Bromo bahkan dipicu oleh suar pernikahan. Dengan kondisi El Nino yang lebih kuat, praktik yang sama tahun ini menghasilkan api yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Dampak kebakaran ini tidak hanya soal asap. Hilangnya tutupan lahan, rusaknya habitat satwa, terganggunya kesehatan masyarakat, hingga gangguan terhadap aktivitas ekonomi wisata menjadi ongkos yang harus dibayar. Kebakaran juga membebani hubungan antarnegara yang setiap tahun tegang karena kabut asap.

Kesimpulan

Karhutla Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa Indonesia menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem dari biasanya. Dengan lebih dari 107.000 hektare lahan terbakar, Gunung Bromo ditutup, dan kabut asap yang mulai menyentuh Malaysia serta mengancam Singapura, penanganan kebakaran tahun ini menjadi ujian besar bagi koordinasi pemerintah — baik di dalam negeri maupun dengan negara tetangga. Selama El Nino belum berakhir dan praktik pembakaran lahan masih ada, ancaman asap lintas batas kemungkinan akan terus membayangi kawasan.