Home / Politik / Iran dan Oman …

Iran dan Oman Sepakati Rute Baru di Selat Hormuz: Pertanda Normalisasi Pasokan Minyak Dunia?

Iran dan Oman dikabarkan mencapai kesepakatan tentang koordinat rute pelayaran baru di Selat Hormuz — salah satu titik tersempit dan terpenting perdagangan energi dunia. Kesepakatan ini muncul di tengah Selat Hormuz yang nyaris lumpuh sejak konflik Iran-Amerika Serikat pecah pada akhir Februari 2026. Kabar ini membawa secercah harapan normalisasi, meski jalan menuju pembukaan penuh masih panjang dan kontroversial.

Ringkasan

  • Kesepakatan rute pelayaran — Iran-Oman menyepakati koordinat rute baru, pernyataan bersama masih disusun.
  • Selat nyaris tertutup — hanya sekitar 2 kapal melintas per hari pada awal Agustus, padahal normalnya 73 kapal.
  • Gangguan pasokan terbesar dalam sejarah — IEA menyebutnya krisis pasokan minyak terparah yang pernah ada.
  • Wacana tarif transit ditolak industri — asosiasi pelayaran global menolak pungutan baru yang berpotensi menaikkan harga energi dunia.
  • Nasib perjanjian belum pasti — perundingan soal biaya layanan dan peran IRGC masih menjadi ganjalan.

Kesepakatan yang masih “setengah jalan”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan Oman telah mencapai kemajuan dan pernyataan bersama sedang dalam tahap penyusunan akhir, seperti dilaporkan WorldCargo News. Menurut sumber Reuters, kesepakatan ini berpotensi memberi Iran kendali lebih besar atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui selat tersebut.

Namun para sumber menekankan bahwa rincian penting masih harus diselesaikan, dan menampik anggapan bahwa kesepakatan ini berarti selat akan segera dibuka penuh. Iran sendiri berkali-kali menegaskan Selat Hormuz tidak akan kembali ke status quo lama — Teheran bahkan sempat mengusulkan sistem pungutan transit sebagai bentuk kendali atas jalur air tersebut.

Kenapa Selat Hormuz begitu penting?

Selat Hormuz adalah lorong sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sebelum konflik, sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati selat ini setiap hari — menjadikannya titik tersumbat (chokepoint) energi paling kritis di dunia.

Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke target militer Iran, arus lalu lintas komersial di selat itu menyusut drastis. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan ini sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak, dengan harga minyak Brent yang berfluktuasi liar sepanjang krisis.

Dampaknya terukur. Pada 2 Agustus, hanya sekitar 2 kapal yang melintas dibandingkan 73 kapal per hari dalam kondisi normal, sebagaimana dirangkum Political.org. Kapal-kapal yang tersisa hanya berlayar dengan pengawalan angkatan laut. Tarif pengapalan melonjak — biaya kontainer dari Asia ke pantai barat dan timur AS naik sekitar 40 persen, sementara rute Asia–Eropa Utara naik sekitar 20 persen, ditambah biaya darurat hingga US$3.000 per kontainer di koridor Teluk.

Rencana pengaturan lalu lintas dua sisi

Menurut analisis The National, sistem yang diusulkan akan membagi lalu lintas antara sisi Iran dan sisi Oman. Iran akan mengelola dan mengoordinasikan kapal yang memasuki Teluk Arab, sementara Oman menangani kapal yang keluar. Kapal-kapal akan menggunakan koridor yang ditunjuk, menggantikan sistem dua jalur yang diterapkan IMO sejak 1968.

Kerangka ini berakar pada kesepakatan yang lebih luas. Pada 17 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang menetapkan periode negosiasi 60 hari dan mewajibkan Iran berkonsultasi dengan Oman serta negara-negara Teluk soal pengaturan maritim masa depan. Sepuluh hari kemudian, Iran dan Oman menandatangani perjanjian dasar pengelolaan navigasi selat.

Perebutan soal tarif transit

Isu paling pelik tetap pada masalah biaya. Reuters melaporkan Iran berupaya menerapkan tarif setara sekitar 5 persen dari nilai muatan untuk setiap kapal — dan AS menolak membayar tarif apa pun.

Wacana ini ditolak keras industri pelayaran dunia. Dalam surat terbuka pada 3 Agustus, enam asosiasi besar — termasuk BIMCO, International Chamber of Shipping, dan World Shipping Council — memperingatkan bahwa pungutan wajib akan menjadi penyimpangan besar dari praktik internasional yang mapan dan berisiko melemahkan kerangka hukum yang mengatur selat untuk navigasi internasional.

“Biaya tambahan apa pun untuk transportasi laut pasti akan mengalir melalui rantai pasokan dunia. Dampaknya melampaui biaya pengapalan — menaikkan harga energi, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi. Pada akhirnya, dampak ini membawa biaya kemanusiaan,” demikian bunyi surat terbuka tersebut.

IMO sendiri menegaskan bahwa pengenaan biaya transit di jalur air tersebut belum pernah terjadi dan akan mempertanyakan prinsip-prinsip navigasi yang mapan.

Kilas balik sejarah krisis Selat Hormuz

Penutupan atau pembatasan Selat Hormuz bukan hal yang pertama kali terjadi, tetapi eskalasi tahun ini termasuk yang terparah:

PeriodePeristiwa
1980-an“Tanker War” selama perang Iran-Irak; tanker minyak menjadi sasaran
2019Serangkaian serangan dan penyitaan tanker di selat di tengah ketegangan AS-Iran
Juni 2026Gencatan senjata AS-Iran disepakati, lalu runtuh dalam hitungan hari
28 Feb 2026Serangan udara AS-Israel ke Iran; lalu lintas komersial selat menyusut drastis
17 Juni 2026AS-Iran menandatangani nota kesepahaman 60 hari, Iran wajib berkonsultasi dengan Oman
27 Juni 2026Iran-Oman menandatangani dasar pengelolaan navigasi selat
Agustus 2026Kesepakatan koordinat rute baru; pernyataan bersama dalam penyusunan

Mengapa Iran menginginkan kendali

Dibalik diplomasi ini ada kepentingan strategis Iran yang tidak bisa diabaikan. Sejak konflik pecah, Iran memegang kendali efektif atas selat yang terletak di perairan teritorialnya. Mengatur rute pelayaran berarti memposisikan diri sebagai penjaga gerbang energi dunia — posisi tawar yang sangat kuat dalam setiap perundingan, baik dengan AS, negara-negara Teluk, maupun komunitas internasional.

Wacana tarif transit sebesar sekitar 5 persen nilai muatan adalah cermin ambisi itu. Bagi Iran, pungutan semacam itu bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga legitimasi atas klaim kendali atas salah satu jalur air paling sibuk di dunia. Inilah yang membuat industri pelayaran dan IMO bersikap sangat defensif — begitu preseden pungutan ditetapkan, bisa menyebar ke selat-selat penting lain seperti Malaka, Suez, atau Bosphorus.

Dampak bagi Indonesia dan ekonomi global

Bagi Indonesia, situasi ini terasa langsung lewat harga energi. Sebagian besar kebutuhan minyak mentah dalam negeri dipenuhi dari impor yang perjalanannya bergantung pada jalur-jalur laut global, termasuk Selat Hormuz. Setiap pekan selat ini tertutup atau terganggu, harga minyak dunia berpotensi melonjak — dan pada gilirannya menekan anggaran subsidi BBM, mendorong inflasi, serta memperlemah nilai tukar rupiah.

Dampak yang sama juga dirasakan rantai pasok global. Biaya pengiriman yang naik 20–40 persen di berbagai koridor berarti harga barang-barang konsumsi ikut tertekan. Laporan industri menyebut ratusan kapal masih menunggu atau bergerak di bawah pengawalan angkatan laut, sementara premi asuransi perang untuk kapal-kapal di kawasan itu membengkak drastis.

Masih banyak ganjalan

Optimisme terhadap kesepakatan ini masih dibayangi ketidakpastian. Seorang pejabat senior Teluk menilai peluang kesepakatan tuntas hanya sekitar 50-50, dengan salah satu hambatan utama adalah absennya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) — elemen paling keras di Iran — dari delegasi perundingan. Tanpa dukungan IRGC, pengaturan di lapangan bisa sulit ditegakkan.

Kesepakatan Iran-Oman juga bukan jaminan selat akan terbuka. Iran menegaskan perjanjian ini tidak otomatis memulihkan lalu lintas komersial penuh. Washington, pada gilirannya, akan menilai apakah kerangka baru ini memenuhi komitmen Teheran di bawah nota kesepahaman sebelum menandatangani memorandum jangka panjang soal navigasi.

Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim “banyak kemajuan” telah dicapai dan membayangkan pengumuman resmi segera hadir — namun klaim serupa sebelumnya pernah muncul dan gencatan senjata Juni antara kedua negara justru runtuh hanya dalam hitungan hari.

Bagi Indonesia dan negara importir minyak lain, perkembangan ini patut dipantau. Setiap minggu selat tertutup berarti jutaan barel minyak tak mengalir ke pasar, mendorong harga energi global naik, dan pada akhirnya menekan anggaran subsidi BBM serta inflasi dalam negeri. Kesepakatan rute antara Iran dan Oman adalah langkah pertama yang disambut baik — tetapi jalan menuju Selat Hormuz yang benar-benar terbuka dan stabil masih panjang.